Dekrit Penitensiari Apostolik pada Saat Peringatan Delapan Abad Wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi, yang dengan ini Memaklumkan Tahun Yubileum khusus, dengan Indulgensi Penuh Terkait, 16.01.2026

“Peliharalah kenangan akan bapa dan saudara kita Fransiskus, demi pujian dan kemuliaan Dia yang telah membuatnya besar di antara manusia dan memuliakannya di antara para malaikat. Doakanlah dia, sebagaimana ia sendiri telah memintakannya kepada kita sebelum wafatnya, dan berdoalah kepadanya, agar Allah juga menjadikan kita, bersama dia, ambil bagian dalam rahmat-Nya yang kudus.”[i]

Sementara buah-buah rahmat dari Yubileum Biasa tahun 2025 yang baru saja berakhir masih nyata dan berdaya guna—di mana kita semua didorong untuk menjadi peziarah harapan yang tidak mengecewakan (lih. Rm 5:5)—kini ditambahkan sebagai kelanjutan yang ideal suatu kesempatan baru untuk bersukacita dan bertumbuh dalam kekudusan: peringatan delapan ratus tahun transitus yang membahagiakan Santo Fransiskus dari Assisi, yakni peralihannya dari kehidupan duniawi menuju tanah air surgawi (3 Oktober 1226).

Dalam beberapa tahun terakhir, perayaan-perayaan yubileum penting lainnya juga berkaitan dengan pribadi dan karya Santo dari Assisi: peringatan delapan ratus tahun Gua Natal pertama di Greccio, penyusunan (Gita Sang Surya/Kidung Makhluk Ciptaan-sebuah kidung bagi keindahan kudus ciptaan-serta centenario penerimaan Stigmata Kudus yang terjadi di Gunung La Verna, laksana suatu Kalvari baru, dua tahun sebelum wafatnya. Tahun 2026 akan menandai puncak dan kepenuhan dari seluruh perayaan sebelumnya: tahun ini akan menjadi Tahun Santo Fransiskus, dan kita semua akan dipanggil untuk menjadi kudus di tengah dunia masa kini dengan meneladan Sang Bapa Serafik.

Jika sungguh benar secara mengagumkan bahwa “tidak ada nama lain di bawah kolong langit yang diberikan kepada manusia” (lih. Kis 4:12) selain Yesus Kristus, Penebus umat manusia, maka sama luar biasanya pula bahwa antara abad kedua belas dan ketiga belas, pada masa yang ditandai oleh apa yang disebut perang-perang suci, kemerosotan moral, dan semangat religius yang keliru, “terbitlah bagi dunia sebuah matahari”[ii]: yakni Fransiskus, yang, sebagai putra seorang saudagar kaya, memilih untuk menjadi miskin dan rendah hati, seorang alter Christus sejati di dunia, dengan memberikan kepada umat manusia teladan-teladan nyata hidup Injili dan gambaran hidup sejati tentang kesempurnaan Kristiani. Zaman kita tidak jauh berbeda dari masa ketika Fransiskus hidup; justru dalam terang kenyataan inilah ajarannya barangkali menjadi semakin relevan dan mudah dipahami pada hari ini. Ketika kasih Kristiani melemah, ketidaktahuan (ketidakpedulian) menyebar seiring dengan kemerosotan moral; ketika mereka yang menjunjung tinggi kerukunan antarbangsa melakukannya lebih karena kepentingan diri daripada oleh semangat Kristiani yang tulus; ketika dunia virtual (maya) menguasai dunia nyata, perselisihan dan kekerasan sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dan perdamaian kian hari terasa semakin rapuh dan jauh—maka Tahun Santo Fransiskus ini hendaknya mendorong kita semua, masing-masing menurut kemampuan kita, untuk meneladan Si Miskin dari Assisi, membentuk diri kita seturut teladan Kristus sejauh mungkin, serta tidak menyia-nyiakan niat-niat luhur dari Tahun Suci yang baru saja berlalu: semoga harapan yang dahulu menjadikan kita peziarah kini beralih rupa menjadi semangat dan gairah kasih yang nyata dan aktif.

“Dan dalam hal inilah aku ingin mengetahui apakah engkau mengasihi Tuhan dan mengasihi aku, hamba-Nya dan hambamu: yaitu bahwa jangan pernah ada seorang saudara pun di dunia inibetapa pun besar dosanyayang, setelah memandang matamu, pergi tanpa menerima pengampunanmu yang penuh belas kasih, apabila ia memintanya.”[iii]

Dengan kata-kata yang luar biasa ini, yang dicatat dalam surat terkenal Epistola ad Quendam Ministrum (Surat kepada Seorang Minister), Santo Fransiskus tidak hanya memberikan penghiburan dan nasihat kepada seorang saudara seordo yang namanya tidak disebutkan, tetapi terutama merumuskan dan menegaskan konsep dasar kerahiman (misericordia), yang secara tak terpisahkan berkaitan dengan pengampunan dan indulgensi. Dan justru suatu pengampunan inilah—yang dikenal sebagai “Pengampunan Assisi” atau “Indulgensi Porziuncola”—yang oleh Paus Honorius III, sebagai suatu hak istimewa yang luar biasa, dianugerahkan secara langsung kepada Fransiskus bagi mereka yang, setelah mengaku dosa dan menerima Komuni Kudus, pada tanggal 2 Agustus mengunjungi sebuah gereja kecil kuno di dekat Assisi, yang didirikan delapan ratus tahun sebelumnya di atas suatu “sebidang tanah kecil” (yang darinya berasal nama Porziuncola).

Dengan dorongan hati yang sama penuh kemurahan dan dengan sukacita yang sama seperti yang dipancarkan Sang Kudus ketika  melihat  doanya  dikabulkan oleh Wakil  Kristus—dan yang kemudian ia curahkan kepada umat yang hadir pada konsekrasi Porziuncola saat mewartakan rahmat yang dianugerahkan—Yang Mulia Paus Leo XIV, pelayan iman dan sukacita kita, menetapkan bahwa mulai tanggal 10 Januari 2026, bertepatan dengan penutupan Yubileum Biasa, hingga 10 Januari 2027, diadakan suatu Tahun Santo Fransiskus yang istimewa. Dalam tahun ini, setiap umat beriman Kristiani, dengan meneladan Santo dari Assisi, diundang untuk menjadi teladan kekudusan hidup dan saksi perdamaian yang setia.

Demi tercapainya secara lebih sempurna tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, Penitensiaria Apostolik, melalui Dekrit ini yang dikeluarkan sesuai dengan kehendak Sri Paus, pada kesempatan Tahun Santo Fransiskus menganugerahkan indulgensi penuh dengan syarat-syarat yang lazim (pengakuan dosa secara sakramental, penerirnaan Komuni Ekaristi, dan doa menurut intensi Bapa Suci), yang juga dapat diterapkan sebagai doa silih bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian:

1) bagi para anggota:

-Keluarga Fransiskan dari Ordo Pertama, Ordo Kedua, dan Ordo Ketiga, baik Reguler maupun Sekuler;

-tarekat-tarekat hidup bakti, serikat-serikat hidup kerasulan, serta perkumpulan­

perkumpulan umat beriman, baik publik maupun privat, pria maupun wanita, yang menghidupi Anggaran Dasar Santo Fransiskus atau terilhami oleh spiritualitasnya, atau dengan cara apa pun melestarikan karismanya;

2) bagi seluruh umat beriman tanpa kecuali, yang dengan hati terlepas dari dosa, mengambil bagian dalam Tahun Santo Fransiskus dengan mengunjungi, dalam bentuk ziarah, gereja-gereja biara Fransiskan mana pun, atau tempat ibadat di mana pun di dunia yang dipersembahkan kepada Santo Fransiskus atau yang berkaitan dengannya dengan alasan apa pun, dan di sana dengan penuh devosi mengikuti ritus-ritus Yubileum, atau meluangkan sekurang-kurangnya suatu waktu yang pantas untuk doa dan permenungan saleh, serta menaikkan doa-doa kepada Allah agar, dengan meneladan Santo Fransiskus, lahir dalam hati perasaan kasih Kristiani yang sejati terhadap sesama dan kerinduan yang tulus akan persaudaraan serta perdamaian di antara bangsa-bangsa, dengan menutupnya dengan Doa Bapa Kami, Pengakuan lman (Credo), serta doa-doa permohonan kepada Santa Perawan Maria yang Terberkati, Santo Fransiskus dari Assisi, Santa Klara, dan semua Orang Kudus dari Keluarga Fransiskan.

Para lansia, orang sakit, mereka yang merawatnya, serta semua orang yang karena alasan berat tidak dapat meninggalkan rumah, tetap dapat memperoleh Indulgensi Penuh, dengan terlebih dahulu melepaskan diri dari segala dosa dan dengan niat untuk memenuhi sesegera mungkin tiga syarat yang lazim, apabila mereka menyatukan diri secara rohani dengan perayaan­perayaan Yubileum Tahun Santo Fransiskus, sambil mempersembahkan kepada Allah Yang Maharahim doa-doa, rasa sakit, atau penderitaan hidupnya sendiri.

Agar kesempatan untuk memperoleh rahlnat ilahi melalui Kuasa Kunci-Kunci Gereja ini dapat terwujud dengan lebih mudah, Penitensiaria ini dengan tegas meminta semua imam, baik religius maupun diosesan, yang memiliki wewenang yang diperlukan, agar bersedia dengan semangat yang siap, murah hati, dan penuh belas kasih untuk merayakan Sakramen Rekonsiliasi.

Dekrit ini berlaku untuk Tahun Santo Fransiskus, tanpa mengindahkan ketentuan apa pun yang bertentangan dengannya.

Ditetapkan di Roma, dari kedudukan Penitensiaria Apostolik, pada tanggal 10 Januari 2026, Vigili Pesta Pembaptisan Tuhan.

Angelo Card. De Donatis
Major Penitentiary

His Reverend Excellency Msgr. Krzysztof Józef Nykiel
Titular Bishop of Velia, Regent

[i] Encyclical Letter of Brother Elias, to all the Provinces of the Order, on the Transitus of Saint Francis, 7 (FF 311).

[ii] Dante Alighieri, Divine Comedy, Paradise, Xl, 50.

[iii] Francis of Assisi, Letter to a minister, 7-8 (FF 235) (Surat kepada Minister 7-8: FF235).

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *