Menjadi Gereja Yang Menginspirasi

Pembukaan

Menjadi Gereja yang Menginspirasi adalan bagian dari Arah Dasar (ARDAS) IX Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang ditetapkan berlaku di KAS untuk tahun 2026-2030. Hal ini ditetapkan oleh Bapak Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko lewat Nota Pastoralnya pada tanggal 7 Oktober 2025. Lengkapnya Arah Dasar itu berbunyi: “Menjadi Gereja yang Bahagia,Menginspirasi dan Menyejahterakan.” Penjelasannya sebagai berikut:

a. Menjadi Gereja yang bahagia berarti menimba sukacita (dasar kebahagiaan: keterangan penulis) dari perjumpaan dengan Kristus dan menyalurkannya dalam relasi yang hangat dan penuh kasih.

b. Menjadi Gereja yang menginspirasi berarti menjadi tanda dan teladan yang menumbuhkan harapan serta memperbarui semangat hidup bersama.

c. Menjadi Gereja yang menyejahterakan berarti berani mengupayakan kesejahteraan yang berkeadilan bagi semua, terutama mereka yang kecil,lemah, miskin, tersingkir dan difabel.

Untuk membantu pemahaman dan pendalaman makna ARDAS IX serta penyusunan program pelayanan strategisnya telah disiapkan Nota Pastoral ARDAS IX yang menjadi pendamping resmi pelaksanaan arah dasar ini.

Gereja Menginspirasi Karena Gereja Bahagia Dan Menyejahterakan

Dari uraian di atas sudah dapat disimpulkan bahwa Gereja yang menginspirasi telah terjadi ketika Gereja Bahagia dan Menyejahterakan. Ini kalau dipandang dari sisi orang di luar Gereja yang menyaksikan kehidupan dan kiprah Gereja kita. Gereja yang bahagia menghasilkan Gereja yang menginspirasi orang di luar Gereja, karena perjumpaan para anggota Gereja dengan Kristus yang mengasihi dan menyelamatkan telah melahirkan sukacita. Dan sukacita ini tersalurkan dalam relasi yang hangat dan penuh kasih. Kalau ini terjadi dalam keluarga-keluarga Katolik, maka relasi antara suami dan istri, dan relasi antara orang tua dengan anak-anak mereka dan sebaliknya serta relasi antara anak-anak mereka juga hangat dan penuh kasih, hidup keluarga-keluarga Katolik memancarkan sukacita dan kebahagiaan. Ini sangat inspiratif bagi mereka yang melihatnya.Bahkan tidak sedikit orang sampai ingin menjadi Katolik karena itu.Apalagi kalau keluarga-keluarga Katolik tersebut masih menyejahterakan orang lain, peduli terhadap yang miskin, lemah, berkekurangan, menderita dan difabel. Tindakan keluar menyejahterakan yang papa dan membutuhkan bantuan ini sendiri juga menginspirasi. Maka Gereja yang menginspirasi terjadi karena sebagai Gereja sudah memancarkan sukacita dan bahagia, ditambah Gereja misioner dengan perbuatan-perbuatan baiknya, yaitu menyejahterakan mereka yang belum sejahtera.

Menjadi Gereja Yang Menginspirasi

Kiranya tidak begitu saja menjadi Gereja yang menginspirasi. Perlu diusahakan oleh seluruh umat Gereja. Karena satu saja umatnya yang menjadi sandungan, dapat membuat seakan-akan seluruh Gereja demikian.Memang benar pepatah “Nila setitik, rusak susu sebelanga”. Apalagi kalau tidak hanya satu yang tidak dapat menjadi contoh hidup yang baik. Maka menjadikan Gereja menginspirasi perlu menjadi usaha semua anggota Gereja atau Paroki, agar banyak orang tertarik menjadi Katolik. Untuk itu dapat dipikirkan perlu adanya pembinaan iman sejak diri sampai lansia.

Pertama, perlu adanya pendidikan atau pembinaan iman anak-anak sejak dini, sejak masih balita. Berarti pendidikan sudah dimulai dalam keluarga.Untuk itu perlu bahwa di rumah ada suasana imani. Ada gambar Tuhan Yesus,Bunda Maria dan Santo Yusuf. Ada meja kecil yang kadang diberi lilin yang menyala dengan salib yang berdiri. Syukur kalau ayah dan ibu berdoa bersama doa malam bersama atau doa litani kepada Bunda Maria,atau kepada Hati Kudus Yesus, atau doa rosario sambil anak balitanya dipangku. Meskipun anaknya belum bisa apa-apa, namun si kecil sudah dapat merasakan suasana doa, suasana yang imani. Kalau suami tidak bisa ikut, ibu dapat sendiri berdoa sambil memangku anaknya. Pelan-pelan anak mulai diajak membuat tanda salib, dengan mengatakan,“Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.” Sementara tidak terburu buru menjelaskan maknanya. Nanti pada saat anak sudah mulai bertanya tentang ini atau itu, saat itulah dapat sedikit demi sedikit diberi penjelasan,mengenai doa-doa itu. Kalau sudah punya kakak, entah laki-laki atau perempuan diajak doa bersama. Ini bagi si kecil merupakan pengalaman kebersamaan dalam doa keluarga, dan bagi si kakak merupakan bina lanjut pendidikan iman dalam keluarga. Baik kalau si kakak mulai hafal doa Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, dan Aku Percaya.

Kedua, keluarga dijadikan Gereja rumah tangga. Maka awal dan akhir kegiatan dimulai dan diakhiri dengan doa. Pagi akan dimulai dengan doa pagi dan malam sebelum tidur menutup hari dengan doa malam. Si kecil pun tidak ketinggalan. Setelah bangun dan mandi sebaiknya duduk menghadap meja yang di atasnya ada salib dan lilin menyala. Dengan kata-kata sederhana ibu memimpin anaknya berdoa pelan-pelan.“Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Selamat pagi Tuhan, Kelik sudah bangun.Ini saya menghadap,mengaturkan hormat dan bakti. Kelik mohon berkat untuk hari ini.” Setiap kali makan pagi, siang atau malam, dimulai dengan doa sebelum makan, umpama: “Demi nama Bapa, Putera dan Roh Kudus.Amin. Tuhan Engkau baik hati. Engkau memberi sarapan Kelik,bubur yang enak.” Dan ditutup setelah makan selesai: “Demi nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin. Tuhan Kelik sudah kenyang. Terima kasih buburnya. Esok lagi ya? Demi nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin!”Pada akhir pekan, menutup pekan dengan merayakan ekaristi di Gereja Paroki, sebaiknya anak dibawa untuk merayakan ekaristi. Di situ dia belajar berdoa, berlutut lebih-lebih saat konsekrasi. Selesai Misa mohon berkat dari pastornya. Tentu saja doa-doa disesuaikan dengan umur yang bertambah. Pelan-pelan cinta kepada Tuhan, kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria serta Santo Yusuf disuburkan. Demikian juga kesadaran bahwa kita semua saudara seiman.

Kemudian bela rasa kepada yang papa disuburkan. Kalau ada orang minta-minta datang, si kecil ditugasi untuk memberikan sesuatu dengan hormat.Semoga kasih yang ditumbuhkan kepada Tuhan, sekaligus mengembangkan rasa persaudaraan dan berbelas kasih kepada yang papa,makin dlipahami dan dihayati.

Ketiga, kemudian bina iman yang berjenjang selanjutnya perlu diselenggarakan oleh Paroki. Bina iman anak dilanjutkan dengan bina iman remaja dan bina iman OMK. Disambung dengan persiapan peneriman Sakramen Krisma yang sangat penting untuk pertumbuhan selanjutnya dalam iman. Sebab dengan Sakramen Krisma atau Penguatan itu, Roh Kudus diharapkan makin banyak membimbing dari dalam hati nurani.Setelah itu mereka mengikuti kelompok-kelompok bina iman lanjutan yang sudah ada. Kalau belum ada hendaknya paroki memikirkannya. Umpama bina iman untuk keluarga dan calon keluarga, bina iman kategorial lainnya,dan bina iman lansia.

Keempat, akhirnya dengan semakin dewasa, cinta bakti kepada Tuhan Yesus perlu diusahakan semakin kuat, semakin setia, semakin menjadi hubungan pribadi yang hidup, sehingga doa menjadi nafasnya, perayaan Ekaristi menjadi kerinduannya. Syukur dapat merayakan Ekarisiti tidak hanya setiap minggu, melainkan setiap hari. Di situ Tuhan Yesus dan Roh Kudus pasti berkenan semakin menyempurnakan iman, kasih dan harapan. Dari situlah tumbuh pribadi-pribadi yang beriman teguh,mendalam dan berbuah kebaikan serta perbuatan kasih yang nyata. Jika ada yang membutuhkan bantuan, mereka akan tanggap dengan penuh semangat dan kasih. Dari situlah tumbuh keluarga-keluarga yang memancarkan kasih ke dalam dan ke luar. Ke dalam berarti antara suami-istri, antara orang tua dengan anak-anak mereka dan antara anak-anak sendiri. Ini sangat membahagiakan. Memancar ke luar berarti bersaudara dengan sesama tetangga, sambil berbakti kepada yang sakit, menderita,maupun yang perlu bantuan. Sehingga pribadi Katolik dan keluarga Katolik menjadi teladan hidup bersama, seperti bintang cemerlang dan mutiara yang bersinar menginspirasi. Terpandang karena bahagia, jujur dan tulus kebaikannya, menjadi harapan bagi yang membutuhkan, dirindukan kehadirannya oleh semua orang, terlebih oleh mereka yang lemah, miskin,menderita dan difabel.

Penutup

Untuk menjadi Gereja yang menginspirasi, perlu menjadi Gereja yang bersatu hidup dengan Tuhan Yesus dalam doa dan dalam perayaan Ekaristi. Karena inilah dasar dari segalanya, terlebih dasar dari tumbuh dan berkembangnya Gereja. Kemudian perlu  diselenggarakan bina iman yang serius sejak dini di dalam keluarga, kemudian bina iman anak,remaja, berjenjang dan berkesinambungan sampai lansia yang diusahakan oleh Paroki. Hasilnya menggembirakan dan menjadi berkat untuk Gereja dan masyarakat.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *