Hari ini kita memperingati para martir dari Jepang, yaitu Paulus Miki dkk. Tahun 1597 terjadi penganiayaan terhadap orang-orang Katolik. Paulus Miki bersama dengan 20 awam dan 6 misionaris Fransiskan dibunuh di pinggir kota Nagazaki.
Melalui Gal 2: 19-20 Paulus menyapa umatnya: Saudara-saudara, aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; kini aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.
Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
Matius dalam injilnya (Mat 28: 16-20) mewartakan: Pada waktu tu 11 murid Yesus berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
Lalu Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, dengan ungkapan “kini aku hidup, tetapi bukan aku yang hidup melainkan Kriatus yang hidup dalam diriku” Paulus telah menunjukkan sikap dan keputusan tetap bahwa dirinya adalah milik Kristus. Baginya tidak adalah pilihan lain kecuali yang satu ini. Semuanya: pikiran, tenaga dan kegiatannya dipersembahkan kepada Kristus – Anak Allah yang telah memilih dan mencintai dia. Hendaknya semangat yang membara dalam di Paulus, mendorong kita juga untuk menjadi milik Kristus dan saluran kasih Allah bagi sesama dengan gembira.
Dua, meski para rasul disuruh pergi ke bukit oleh Yesus dan mendengarkan pesan-pesan-Nya, toh sebagian dari mereka ragu-ragu tentang kehidupan dan kebangkitan-Nya.
Keraguan itu tidak menjadi alasan/halangan bagi Yesus untuk tetap memilih dan mengutus mereka. Justru di dalam kelemahan dan keterbatasan itulah rahmat dan belas kasih Allah yang bekerja, membaharui hidup dan keyakinan mereka menjadi nyata. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
