Hari ini kita memperingati 1 orang kudus, yaitu St. Agatha, perawan dan martir.
Melalui 1Kor 1: 26-31 Paulus menyapa umatnya: Saudara-saudara, ingatlah bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Meski demikian, apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat.
Apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat. Dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.
Sebaliknya, oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”
Lukas dalam injilnya (Luk 9: 23-26) mewartakan sabda Yesus kepada orang banyak: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? Barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan para malaikat kudus.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, melalui Paulus ditegaskan bahwa Allah dengan sengaja memilih orang bodoh, orang yang tidak diperhitungkan dan bahkan disingkirkan untuk menyatakan bahwa Allah bisa menghadirkan kuasa dan kerahiman-Nya melalui mereka. Bahwa Allah tidak bisa didikte/tidak bisa dipaksa oleh orang yang berkuasa/berpangkat/berharta untuk memenuhi kemauan mereka. Maka, hendaknya manusia/kita bersyukur karena diberi anugerah/rejeki dan dilibatkan dalam karya keselamatan Tuhan.
Dua, dengan kata-kata yang jelas dan tegas: “Barangsiapa mengikuti Aku harus menyangkal dirinya dan memikul salib”, Yesus hendak memurnikan motivasi orang itu. Artinya, orang itu mau dan rela untuk hidup seadanya, sesuai dengan kemampuan umat, siap diutus ke daerah-daerah yang sulit. Selain itu, dia juga siap untuk capek secara fisik, kecewa karena ditolak dan terhina karena difitnah. Melalui jalan itu, hidup dimurnikan, jalan dilapangkan dan kebahagiaan dianugerahkan. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
