Peradaban Kasih

Bulan Februari dikenal sebagai bulan kasih karena ada tanggal 14 Februari sebagai Hari Kasih Sayang atau sering disebut Valentine’s Day. Namun hari tersebut sering disalahpahami dan disalahmaknai seakan kasih itu bersifat eros dan karenanya lantas bermakna erotik. Padahal semestinya bukanlah itu maksud dari Hari Kasih Sayang.

Kasih sayang yang semestinya bersumber dari Allah yang adalah kasih, maka, implementasinya kasih itu bahkan bukan hanya kasih filial melainkan kasih agape. Kasih yang ditandai pengorbanan dan terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang bersifat ilahi. Kasih yang menyelamatkan umat manusia.

Mengacu pada Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (Ardas KAS) dan Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035 peradaban kasih terwujud dalam tiga tanda indikator yakni kehidupan beriman yang kian cerdas, tangguh, mendalam, dialogis (CTMD); kehidupan yang sejahtera; serta kehidupan yang bermartabat.

Dewasa ini, kita mengalami proses globalisasi, yang mengarah pada penyatuan ekonomi, budaya, dan masyarakat secara progresif. Para pengikut berbagai agama semakin menyadari fakta bahwa hubungan dengan satu Tuhan, Bapa yang sama bagi semua, pasti akan menghasilkan rasa persaudaraan antar manusia yang lebih besar dan kehidupan bersama yang lebih. Inilah yang menurut wahyu Allah di dalam Kristus menemukan ekspresinya yang radikal: “Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah; karena Allah adalah kasih” (Yohanes 1Yohanes 4:8).

Atas dasar prinsip ini, Hari Kasih Sayang semestinya dapat diekstrapolasikan ke dalam cita-cita mewujudkan peradaban kasih. Bahkan peradaban kasih ekologis interreligius. Faktanya, segala sesuatu terhubung satu terhadap yang lain. Keterhubungan itu harus dilandasi prinsip Kasih Ilahi yang menempatkan Allah sebagai Bapa semua orang tanpa diskriminasi.

Karena di dunia ini umat ditandai realitas kemajemukan dan keberagaman agama, maka, mau tidak mau, relasi itu terjadi dan terjalin secara interreligius, lintas agama. Kesalingterhubungan dalam kemanusiaan yang adil dan beradab di tengah keberagaman agama menjadi pintu masuk dan sekaligus realitas ekologi interreligius. Kemanusiaan yang adil dan beradab dengan menjunjung tinggi martabat manusia dan perwujudan kesejahteraan bersama sebagai orang beriman CTMD apa pun agama dan kepercayaannya menjadi peluang bagi terwujudnya peradaban kasih ekologis interreligius.

Semoga demikianlah terjadinya. Salam peradaban kasih ekologis Interreligius. Berkah Dalem. Salam INSPIRASI, Lentera yang membebaskan.

Aloys Budi Purnomo Pr

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *