Oleh BAVO BENEDICTUS SAMOSIR, OCSO*
Bumi Pertiwi menangis dalam deraian air mata. Ia tidak berdaya, di saat banjir dan tanah longsor terjadi di bagian barat dirinya. Tangisnya semakin memecah ketika air bah menghanyutkan putra-putri terkasihnya serta hunian ruang tinggal mereka. Tangis itu tidak hanya dalam deraian namun telah menyesakkan dadanya. Beratus-ratus jiwa yang ia kasihi telah terenggut nyawanya, beratus-ratus orang yang ia kasihi menghilang ditelan air bah dan tanah yang melongsor. Beribu-ribu terluka dalam perjuangan mereka untuk mempertahankan hidup. Dadanya semakin perih karena itu terjadi dalam pelukannya. Namun ia tidak mampu menyelamatkan mereka semua yang ia kasihi. Derai bening air matanya menyatu dalam luapan arus air yang berlumpur membawa beratus-ratus tubuh miskin dan tak berdosa.
Indonesia, merupakan salah satu negara yang rawan dengan bencana alam, gempa bumi, gunung meletus, banjir dan tanah longsor. Satu bulan memasuki tahun 2026, tepatnya 26 November 2025, negeri kepulauan kita di ujung bagian barat, tepatnya provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dilanda bencana banjir dan tanah longsor. Bencana itu terjadi di beberapa wilayah di ketiga propinsi tersebut. Banjir bandang ini menghancurkan kehidupan saudara-saudari kita yang terkena dampaknya. Mereka kehilangan harta bahkan kehilangan keluarga dan sanak saudara. Di satu sisi, curahan hujan dengan intensitas hujan yang ekstrem menjadi penyebab bencana banjir dan tanah longsor. Namun di sisi lain, bencana banjir ini disebabkan karena manusia, tepatnya sang pemodal yang hanya memikirkan keuntungan ekonomi, bertindak semena-semena terhadap lingkungan alam yang menyebabkan terjadinya kerusakan ekosistem. Pepohonan di hutan yang seharusnya dilestarikan untuk menjadi pelindung dari bencana banjir dan tanah longsor ditebang tanpa perhitungan, hanya untuk meraup keuntungan secara materi.
Di saat-saat krisis ini, kita semua dipanggil untuk membantu mereka sesuai dengan keadaan dan kemampuan kita masing-masing, dengan bermacam cara. Ada yang datang langsung ke lokasi untuk mengevakuasi korban. Ada yang mengumpulkan dana untuk keperluan pokok yang mereka perlukan. Sebagai pengikut Kristus yang tidak bisa terlibat langsung karena jauhnya jarak dari korban bencana, selain melambungkan doa tentu kita semua berpatisipasi untuk berbagi demi meringankan beban mereka yang terkena bencana, agar mereka segera dipulihkan. Kita berbagi seturut kemampuan kita. Tidak penting seberapa besar jumlah yang kita berikan, tetapi yang penting seberapa besar hati kita untuk memberi. ”Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Kor 9:7)
Lebih jauh lagi, peristiwa bencana banjir dan tanah longsor pada akhir November tahun lalu adalah sebagai pengingat bagi kita untuk melihat bagaimana selama ini kita memperlakukan bumi sebagai rumah bersama kita. Sebagai sebuah bangsa, kita belum memperlakukan bumi dengan baik tetapi mengeksploitasinya demi kepentingan ekonomi sekelompok orang tertentu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak proyek-proyek negara merusak bumi yang mengakibatkan bencana seperti banjir dan tanah longsor dan pada akhirnya mengancam kesejahteraan hidup masyarakat lokal di sekitar proyek-proyek tersebut. Dalam keadaan seperti ini, Gereja Indonesia masih harus terus menyuarakan, baik melalui perkataan dan juga tindakan, untuk mengajak umat manusia, khususnya masyarakat indonesia melakukan pertobatan ekologis dengan tidak lagi mengeksploitasi planet bumi kita namun memeliharanya agar kita merasa nyaman mendiaminya sebagai rumah bersama. Almarhum Paus Fransiskus telah mengeluarkan ensiklik Laudato Si. Dan ternyata, setelah sepuluh tahun berlalu, ensiklik tersebut masih perlu untuk terus direnungkan, dikontemplasi, dan diwujudnyatakan.
Peristiwa menyedihkan pada 26 November 2025 yang lalu mengajak kita masing-masing untuk merenungkan hubungan kita sendiri dengan lingkungan. Lingkungan itu bukan hanya menyangkut soal lingkungan hutan, tetapi juga lingkungan sekitar di mana kita menjalani kehidupan sehari-hari. Coba kita lihat apakah ada pepohonan di halaman rumah kita masing-masing? Atau paling tidak apakah ada beberapa tanaman di pot di halaman rumah kita? Kalau belum, coba kita mengusahakannya karena menanam tanaman itu bukan masalah hobi tetapi soal tanggungjawab kita untuk memelihara bumi yang telah dipercayakan kepada kita untuk kita tempati. (Lihat Kejadian 1:26-28 dan Amsal 3: 19 – 22)
Saat ini di manapun kita berada, terutama di perkotaan sudah terjadi polusi udara. Salah satu sumber polusi adalah asap kendaraan. Hampir setiap keluarga memiliki kendaraan, maka semua keluarga yang memiliki kendaraan ambil bagian sebagai penyebab polusi udara. Banyak cara untuk mengatasi polusi, salah satunya adalah menanam tanaman di halaman rumah kita. Tumbuhan menyerap karbon dioksida yang merupakan buangan dari kendaraan yang sangat berbahaya bagi kesehatan kita manusia dan tumbuhan menghasilan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita.
Memelihara bumi juga berarti kita memerhatikan sampah yang ada di sekitar rumah tinggal kita. Permasalahan sampah yang ada di negara kita bisa kita selesaikan mulai dengan tindakan sederhana di setiap keluarga, misalnya selalu membiasakan tidak membuang sampah sembarangan, membiasakan memilah sampah organik dan anorganik serta sampah yang bisa di daur ulang. Tindakan yang sederhana tetapi jika dilakukan oleh semua keluarga akan memiliki dampak yang luas. Tantangan yang terjadi dalam realita adalah ketika sebuah keluarga sudah memisahkan sampah menurut jenisnya namun pada pengangkutan sampah, semua sampah disatukan.
Memelihara bumi juga berarti tidak pernah membuang makanan. Budaya konsumerisme membuat kita terbiasa membuang makanan tanpa merasa bahwa perbuatan itu salah dan berbahaya bagi bumi. Mungkin banyak orang belum mengetahui bahwa sisa makanan yang kita buang di pembuangan sampah dapat mecemari tanah dan air tanah serta pemanasan global karena menghasilkan gas metana yang lebih berbahaya dari karbon dioksida. Jadi, kita usahakan tidak membuang makanan. Lebih jauh almarhum Paus Fransiskus pernah mengecam orang yang membuang makanan. Ia mengatakan bahwa membuang makanan sama dengan mencuri dari meja mereka yang miskin dan kelaparan.
Selamat Tahun Baru 2026. Semoga kita semakin mencintai bumi ini agar bumi menjadi ruang tinggal yang nyaman untuk kita diami
*Penulis adalah Rahib and Imam – Our Lady of Silence –Roscrea Co. Tipperary Irlandia.
