Romo Patrisius Mutiara Andalas SJ menyampaikan alasan pentingnya warga Indonesia terlibat dalam urusan politik. Menurutnya, hampir tidak ada sisi kehidupan kita yang lepas dari politik.“Sebenarnya politik itu terkait juga dengan pacaran ya, terkait dengan kuliah. Hampir nggak ada sisi hidup kita itu yang lepas dari politik ya. Kalau kamu pacaran digerebek, itu juga ada unsur politiknya ya,” katanya memberi ilustrasi dalam acara Talk Show “Politik als Beruf: Belajar Politik Sebagai Panggilan Iman” di GKJ Condongcatur, Yogyakarta, 26 Juni 2025 lalu.
Salah satu bentuk terlibat dalam urusan politik adalah mengritisi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak bahkan memakan korban rakyat sendiri. Namun, kerap kali, tindakan itu di-counter dengan ayat Roma 13:1 “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya. Sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barang siapa melawan pemerintah ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya akan mendatangkan hukuman atas dirinya.” Melalui ayat itu,tindakan menentang pemerintah yang tidak berpihak, misalnya dengan demonstrasi bisa dianggap bertentangan dengan ajaran iman.
Terkait dengan hal itu, Romo Andalas menanggapi, raja yang baik itu menyuarakan Allah.“Tapi rakyat yang berontak juga menyuarakan Allah, ya,” katanya. Maka, menurutnya, kita harus diskresi dulu, “jangan buru-buru mengatakan tidak boleh demo dan seterusnya.”“Kalau misalnya orang-orang muda demo ya mungkin kadang-kadang agak keliru, omongannya kebablasan.Tetapi saya kira kita sebagai orang-orang dewasa perlu bisa nangkap ya poinnya orang muda gitu ya. Saya masih ingat ketika saya mahasiswa itu pengalaman yang paling mengesankan buat saya adalah menemukan salah satu teman saya itu jadi korban tragedi Semanggi 98 ya. Dia ditembak.Kami waktu itu sama-sama jadi relawan untuk kemanusiaan dan salah satu anggotanya, saya ketua waktu itu, dia Wawan ya, itu meninggal dengan ditembak oleh aparat ya. Dan peristiwa itu semacam membangunkan saya dari semacam tidur mungkin seperti rekan muda kita ya,”katanya.Peristiwa wafatnya Wawan, temannya, menyadarkannya dan membentuk dirinya untuk terlibat dalam urusan politik. Ia pun terlibat dalam Aksi Kamisan di depan Istana Negara, di Jakarta.“Saya kira saya tidak akan pernah menjadi dosen seperti sekarang kalau saya tidak ada dalam peristiwa 98,”kata imam yang saat ini ditugaskan untuk mengajar di Universitas Sanata Dharma,Yogyakarta itu. Ia mengajar teologi yang dianggap paling“kiri” dalam Gereja yaitu Teologi Sosial atau Teologi Politik. Aksi terbaru yang dilakukannya adalah menolak RUU TNI.“Dan saya sengaja pakai stola simbol Gereja Katolik, banyak yang tidak suka sih. Tapi yang support saya lebih banyak saya kira ya, di kalangan teman-teman Gereja Katolik,” katanya dalam acara yang pesertanya sebagian adalah para mahasiswa lintas agama itu.
Tidak hanya mahasiswa, menurut Romo Andalas, siapapun bisa terlibat dalam urusan politik,termasuk ibu-ibu. Ia memberi contoh di Jakarta, ibu-ibu yang tergabung dalam “Suara Ibu Peduli” mendukung gerakan mahasiswa. “Yang mereka lakukan itu kan simpel, mereka menanak nasi dan memberikannya pada demonstran ya. Kalau nggak ada ibu-ibu ini apa bisa kita demo dari pagi sampai tengah malam ya? Pasti kelaparan kan? Dan tahu sendiri kan duit mahasiswa itu cupet ya untuk jajan di jalan,” katanya. Masing-masing orang bisa mengambil peran di dalamnya.“Saya kira setiap dari kita memainkan peran yang tidak boleh kita sepelekan ya. Tugas saya kalau di ruang kuliah ngompori mahasiswa-mahasiswi ya turunlah ke jalan. Sekarang ini di kantor saya ada seratusan salib yang saya siapkan. Itu saya lakukan di kelas Pengantar Liturgi dan Teologi Doa Devosi. Nanti kalau saatnya tiba, salib itu tinggal dibawa oleh mahasiswa dan kita jalan ke kilometer nol bersama. Bawa salib. Ya identitas kita. Saya kira panggilan kita adalah mungkin dalam bahasa orang muda sekarang aja menjadi influencer Allah dalam dunia atau di Indonesia now ya. Dan saya kira hidup kita menjadi berarti kalau kita bisa meninggalkan sebuah jejak ya.Dan mudah-mudahan jejak itu harum ya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Romo Andalas sangat mengapresiasi jika Gereja bisa berkolaborsasi dengan mereka yang berbeda agama dan keyakinan. “Kita relevan di luar dan di dalam komunitas iman kita, kita juga signifikan ya,” sambungnya.
Maka, ia juga mengapresiasi acara hari itu yang membuat Gereja berafiliasi dengan banyak komunitas iman dari berbagai latar belakang. “Saya nggak bisa membayangkan kalau Gereja kita itu nggak ngomongin lagi politik ya. Mungkin kita akan menjadi korban politik terus,” katanya.la mengapresiasi Gereja-gereja di Indonesia Tengah, di Papua yang menyoroti isu nikel, gas alam, maupun isu lingkungan lainnya.“Kalau Gereja bungkam, sumber daya alam dieksploitasi habis-habisan ya,” katanya.
Tidak harus politisi atau politikus. Terkait dengan panggilan untuk terlibat dalam urusan politik,siapapun dengan latar pekerjaan apapun bisa terlibat seraya melakukan tugas-tugas utamanya.Terlebih ketika tak sedikit oknum politisi yang kehilangan nlilai luhurnya. “Saya kira, apalagi untuk konteks Indonesia ya politik atau politikus itu sekarang menjadi gawean ya, yang semakin kehilangan nilai luhurnya. Boro-boro dibilang profesi ya, tidak korupsi aja kayaknya sulit banget ya untuk profesi politikus itu. Maka orang-orang beriman mudah-mudahan saya kira sebagian dari kita tetap perlu ya memberikan hadir di ruang politik ya,”katanya.
Romo Andalas pun bercerita kalau ia sehari-hari melakukan tugas sebagai seorang imam Katolik “Nah,jangan dikira lalu saya hari Minggu tidak misa ya, hari Senin sampai Sabtu tidak kunjungan umat ya, saya masih melakukan tugas-tugas itu dan even ya, most of my times adalah ngajar mahasiswa-mahasiswi. Tetapi politik sebagai panggilan iman, sebagai profesi iman, saya coba hidupi ya,”katanya.
Salah satu aksi yang dilakukannya dan cukup menggemparkan kota Yogyakarta adalah aksi ‘Tidur di Tempat di Sampah”. la jengah dengan pemerintah kota yang tak segera menyelesaikan masalah sampah. Tiap hari sampah makin menggunung di dekat kampusnya.”Dan saya kemudian mencari dari perspektif iman Kristiani saya, demo yang tidak mengerahkan massa tapi berdampak besar ya. Maka saya pakai baju ibadat saya sebagai imam Katolik,”katanya.Dengan pakaian itu, ia pun melakukan aksi tidur di tempat sampah dengan didokumentasikan mahasiswa waktu Jumat pertama. Aksi itu mendapat reaksi dari otoritas pemerintahan.Tak berapa lama, sampah pun diangkut.
Politik, bagi Romo Andalas, adalah tentang rumah bersama sehari-hari. “Politik itu tentang seseorang yang tinggal di sebelah rumah saya. Politik itu bisa berarti adalah seseorang yang mestinya tadi ya, angkringannya ada pengunjungnya. Tetapi selama beberapa waktu karena efisiensi anggaran ya, lalu terdampak, juga tidak ada yang mampir karena pejabatnya tidak ke hotel, sopirnya tidak ke angkringan ya. Buat saya politik adalah ya rumah kita sehari-hari. Dan saya yang sehari-hari di dunia pendidikan, jangan dikira kampus itu tidak diapolitisasikan ya.Misalnya, sekarang ya, sejak kapan ya lembaga pendidikan itu kalah oleh tentara dalam pendidikan karakter ya. Wah, itu buat saya kampus harus malu besar sih. Kalau soal pendidikan karakter itu beralih dari institusi pendidikan ke institusi militer yang dengan segala hormat, tidak punya banyak pengalaman panjang soal mendidik ya. Membuat taat, iya.Membuat patuh,iya.Tapi mendidik, saya kira itu urusan yang saya kira sekolah perlu mempertahankan ya,agar tidak diambil oleh kuasa,” katanya.
Berada dalam jalur aktivisme politik membutuhkan konsistensi. Maka, menurut Romo Andalas, seorang aktivis perlu terus mengecek diri, masih dijalur aktivisme atau sudah terbeli oleh banyak kepentingan. Tak jarang kaum intelektual akademis pun terbeli oleh kepentingan tertentu sehingga kehilangan suara kritis profetisnya. “Sebagai salah satu suara kritis yang tidak banyak di dalam masyarakat itu pun juga sudah terbeli ya,” katanya.
Romo Andalas pun mengingatkan bagi mereka yang berada di jalur aktivisme supaya tidak takut kecil dan sendiri. “Karena meskipun mungkin kita merasa kecil, merasa sendiri kalau kita menengok ‘kiri-kanan’, ada temannya kok,” katanya. Maka, sambungnya, membangun jejaring,kolaborasi,menjadi cara supaya menjadi lebih berdaya, “daripada kalau kita sendirian membawa bendera masing-masing ya,terutama bendera agama ya, kita akan mudah cepat diadu ya,dan kita akan cepat habis di dalam perjuangan”. Dalam berjuang itu masing-masing bisa saling menguatkan. “Saya kira dalam perjuangan, kita tidak membawa bendera. Kalaupun membawa bendera ya kita sama-sama memuliakan Tuhan, ya, dalam perjuangan kita,” kata Romo Andalas.
Akhir-akhir ini, di suatu daerah, anak-anak yang dianggap bermasalah dibina oleh militer.“Saya kira lembaga pendidikan tidak boleh kalah ya, karena itu adalah ya pertaruhan terakhir kita.Dengan segala hormat pada lembaga TNI, polisi, saya kira mereka tidak dari lahir ada untuk itu ya.Dan bahkan terutama pada rezim-rezim yang otoriter, anak-anak itu tidak dilatih menjadi lebih baik,tetapi lebih tunduk pada negara ya. Nah, itu yang saya tidak suka. Padahal mestinya pendidikan itu memerdekakan, tidak menjadikan seseorang taat apalagi tunduk ya,” ungkapnya.
Menurut Romo Andalas, ketika anak membuat kesalahan, itu adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. “Saya kira dalam pendidikan anak membuat kesalahan itu adalah bagian dari pendidikan ya. Jadi menurut saya terlalu ideal membayangkan bahwa kita mendidik anak untuk tidak pernah membuat kesalahan ya. Saya kira membuat kesalahan itu juga bagian dari pendewasaan ya. Bahwa realita dunia kita tidak seindah firdaus ya. Maka justru ketika anak bergumul dengan mungkin emosinya yang ekstrem dan macam-macam, justru di situlah ya tempat pendidikan itu sentral ya,” katanya.
Maka,menurunya, siapapun yang berprofesi sebagai pendidik atau bahkan pendidik agama, kedekatan dengan orang muda atau anak sangat penting. “Jangan sampai ketika anak itu membayangkan sosok yang dekat, kita tidak ada dalam frame mereka ya. Itu menyedihkan sekali sih,”ungkapnya.
Lebih lanjut, Romo Andalas menyinggung tentang profetisme.“Profetisme adalah nabi-nabi yang berani di dalam agama-agama kita ya. Nabi-nabi yang berani ini seringkali melawan nabi-nabi yang mengabdi pada kerajaan atau pemerintahan ya. Misalnya ya, kalau dalam kitab suci Ibrani Natan ya. Dia mengkritik Daud ya. Dan profetisme itu kan sebenarnya punya dua sisi ya,yaitu anunsiasi dan denunsiasi. Ketika situasinya baik ya kita mewartakan kabar gembira (anunsiasi). Ketika situasinya buruk kita perlu kritis, ya denunsiasi. Nah, menurut saya yang kadang-kadang hilang dalam agama adalah justru sisi denunsiasi-nya. Apalagi kalau kita mikir ya kalau saya membuat pernyataan semacam ini, nanti gereja saya bagaimana. Saya kira kalau kita mau belajar dari Yesus, saya kira kita mengalami sedikitlah disalib seperti Yesus ya. Saya kayaknya akan bangga sih kalau meninggal disalib ya, di negeri ini. Saya tidak akan menyesal,karena kita telah memberi sesuatu ya,” katanya. Menurutnya, itu adalah panggilan menjadi Gereja Indonesia. Untuk itu, ia sebagai dosen, meski bisa saja menulis yang baik-baik dengan ‘menjilat-jilat’ pemerintah, tetapi ia memilih menulis kebenaran dengan berbagai risikonya. “Aktivisme itu menuntut keberanian ya, berani ambil posisi,” katanya.
Romo Andalas lebih lanjut menyampaikan, berteologi membutuhkan bantuan perangkat-perangkat keilmuan yang lain. “Maka semakin interdisipliner teologi, menurut saya akan lebih kaya. Teologi tidak bisa dikerjakan hanya dengan ayat Kitab Suci meskipun romo atau pendeta mungkin bisa khotbah 1 jam tentangnya ya. Tetapi teologi akan menjadi sangat miskin ya, bahkan bisa dikatakan ya teologi akan bangkrut kalau dia hanya menggunakan Kitab Suci sebagai sumber berteologinya. Saya kira sumber-sumber berteologi kan jauh lebih kaya ya, termasuk misalnya realitas politik,” ungkapnya.
Terkait tautan antara teologi dan realitas politik Indonesia, ia sempat menulis buku “Kesucian Politik”yang diterbitkan dalam momentum 10 tahun Tragedi Mei dan Semanggi.la mendapati momentum yang tepat waktu itu. “Tetapi waktu itu buku itu menurut saya sebuah momentum yang kalau tidak saya lakukan sekarang, buku itu tahun depan tidak perlu ada. Karena waktu itu momennya adalah 10 tahun Tragedi Mei dan juga 10 tahun Tragedi Semanggi. Dan waktu itu terdapat semacam kekosongan di dalam sejarah Indonesia ya,” katanya. Kekosongan itu,bahkan olehnya, digambarkan sebagai ‘Numb’ seperti salah satu judul lagu Linkin Park. “Kita itu kayak diam, tercekat, speechless mau nulis apa. Dan ini mau nulis buku ya. Nulis buku itu kan harus agak bisa omong panjang ya. Maka buku itu betapapun tipisnya ya, tapi itu sebuah usaha agar kita bisa memaknai terutama korban kekerasan negara ya,” ungkapnya.
Bahkan menurutnya, pihak penerbit sudah tahu buku itu tidak akan laku keras, tapi buku itu dibutuhkan.“Nah,kadang-kadang teolog itu seperti itu ya, melakukan sesuatu yang nggak akan pernah laris, tetapi akan memberikan kontribusi untuk kemanusiaan. Saya kira itu. Dan saya kira semakin interdisipliner ya, teologi dengan psikologi, teologi dengan ilmu-ilmu sosial,termasuk ekonomi,” katanya. Menurutnya, teologi akan sombong sekali kalau merasa dirinya cukup dengan dirinya.
Romo Andalas menekankan perlunya agama hadir dalam ruang publik politik secara signifikan dan relavan.“Sayangnya kadang-kadang agamawan di ruang politik itu sudah senang kalau bisa membuat tanda salib ya dalam doa. Itu kita belum buat apa-apa ya. Ruang politik adalah ruang yang menuntut keberanian kita ya, kesucian kita. Dan sayangnya memang jatuhnya pada ritual ya, suruh mimpin doa ya, suruh ini ya memegangi kitab suci kalau ada pengikraran jabatan. Itu buat saya adalah hal-hal seremonial ya,” katanya. Menurutnya, agama perlu masuk pada hal-hal yang lebih substansial seperti masuk dalam isu-isu yang sedang digumuli rakyat terkait dengan kelestarian lingkungan. Dalam situasi ini, agama membutuhkan masukan dari aktivis-aktivis lingkungan.“Kita kan baru belakang-belakangan ini ya menulis tagar SaveRajaAmpat, Save Morowali dan seterusnya ya. Padahal agama selalu ada di lokasi-lokasi itu,” katanya.Ketika agama sampai tidak bisa melihat realitas itu, bagi Romo Andalas, itu adalah persoalan besar.“Barangkali agama-agama telah secara eksternal kehilangan relevansinya,” katanya.Bahkan Romo Andalas mengaku sebal kalau politik Katolik hanya berputar di seputar ijin mendirikan gereja. “Saya tuh paling sebel kalau politik Katolik hanya soal izin mendirikan gereja.Bukannya saya tutup mata terhadap kebutuhan itu, tetapi karena kita lalu jadi picik dalam perjuangan,”katanya.
Romo Andalas menegaskan pentingnya kolaborasi dengan agama-agama lain supaya lebih relevan dengan situasi yang sesungguhnya. “Sekarang momennya untuk kolaborasi, tidak membawa bendera sendiri-sendiri ya,” pungkasnya.
