Minggu, 11 Januari 2026
Pesta Pembaptisan Tuhan
Bacaan I : Yes. 42:1-4,6-7
Bacaan II : Kis. 10:34-38
Bacaan Injil : Mat. 3:13-17
Makna Pembaptisan Yesus dan Pembaptisan Kita
Pada hari ini kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Melalui bacaan Injil hari ini, iman kita diteguhkan akan Yesus sebagai Anak Allah. Setelah Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan, terdengarlah suara dari sorga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”.
Sabda Tuhan hari ini juga mengajak kita untuk memahami makna pembaptisan, baik yang dialami oleh Yesus maupun yang kita terima. Dalam konteks waktu itu, pembaptisan Yohanes Pembaptis mempunyai makna pertobatan dan pengampunan dosa. Artinya, dengan dibaptis, seseorang menyatakan diri bertobat dan mendapat pengampunan dari Allah.
Pertanyaannya, apakah Yesus berdosa sehingga perlu bertobat, kok Dia dibaptis oleh Yohanes? Jawabannya jelas: Yesus tidak berdosa dan tidak perlu bertobat! Namun, mengapa Ia dibaptis?
Alasan pertama, dengan membiarkan diri dibaptis, Yesus menyatakan solidaritas-Nya dengan kaum pendosa (bdk. 2 Kor 5:21). Alasan kedua, Yesus dibaptis oleh Yohanes bertujuan untuk menggenapi kehendak Allah (bdk. Mat 3:14-15). Ditegaskan Yesus kepada Yohanes, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”
Kita semua tahu bahwa rangkuman kehendak Allah adalah “untuk menyelamatkan manusia”. Untuk menyelamatkan kita, Yesus harus masuk dan menjadi bagian dari orang-orang berdosa, serta ikut mengalami senasib-sepenanggungan dengan orang berdosa.
Meskipun Allah menyatakan bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang terkasih, dengan rendah hati Yesus ikut menjalani pembaptisan seperti orang-orang pada umumnya. Yesus memilih kerendahan hati atau pengosongan diri (kenosis) sebagai jalan menuju kemuliaan.
Kerendahan hati atau pengosongan diri merupakan salah satu indikator kecerdasan spiritual. Seorang yang tidak bisa rendah hati berarti belum mencapai kematangan pribadi dan spiritual. Orang yang rendah hati mampu mengenali, mengagumi dan mengapresiasi keunikan dan sisi-sisi positif sesamanya, sehingga membuat orang lain merasa penting dan berharga. Orang seperti itu akan membahagiakan hati sesama.
Salah satu ciri kerendahan hati adalah mau mendengarkan pendapat/saran dan siap menerima kritik. Tuhan memberi kita dua buah telinga dan satu mulut, maksudnya agar kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Kadangkala hanya dengan mendengarkan saja kita sudah dapat menguatkan orang yang sedang mengalami kesedihan atau kesulitan. Dengan hanya mendengarkan, kita dapat memecahkan sebagian masalah yang dihadapi sesama kita.
Ciri kerendahan hati lainnya adalah kesediaan mengakui kesalahan dan meminta maaf jika memang salah. Artinya, kita peduli dengan perasaan orang lain. Rendah hati menjadikan kita realistis, sadar akan keterbatasan diri, mau membuka diri untuk terus belajar, menghargai pendapat orang lain, penuh rasa syukur dan ikhlas mengemban tugas kehidupan.
Sekarang, bagaimana dengan makna pembaptisan kita? Ketika dibaptis, dahi kita dicurahi air baptis dan seorang imam mengatakan: ”…. (sebut nama), aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. Diharapkan, setelah dibaptis kita senantiasa mengabdi Tuhan dan menolak semua godaan setan.
Berkat Sakramen Baptis, kita dilahirkan kembali dalam Roh, sehingga kita diangkat sebagai anak-anak Allah. Dengan dibaptis, kita juga menjadi warga Gereja Katolik. Namun, kita tidak boleh hanya membanggakan status tersebut. Sebagaimana Yesus selalu menggenapi kehendak Allah, kita pun harus juga melaksanakan kehendak Allah dalam hidup ini. Marilah kita mohon rahmat kesetiaan merawat rahmat baptisan sampai akhir hayat.#
Yohanes Gunawan, Pr
Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya,
Jangli – Semarang
