Kalau kita melihat Gereja, Gereja sebagai sebuah paguyuban perkumpulan umat beriman, maka inti, dalam arti sumbernya kebahagiaan, adalah iman kepada Kristus yang mendatangkan kebahagiaan. Demikian Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko mengawali dialog dalam acara Wawanhati Bersama Mgr. Robertus Rubiyatmoko, di Surakarta, 3 Desember 2025. “Apapun kondisinya, apapun situasinya membuat orang sungguh-sungguh percaya. Dan kepercayaan itulah yang membuat akhirnya kebahagiaan, meskipun ra duwe beras, meskipun ra payu-payu sawahe, panenane, namun tetap mempunyai harapan. Inilah yang menjadi inti kebahagian kita, adalah iman kepada Kristus yang menjadi sumber keselamatan kita,” katanya dalam acara yang diselenggarakan dalam rangka hari ulang tahun Kevikepan Surakarta yang ke-59 itu. Dalam situasi itu, kebahagiaan itu ada dalam keluarga. Keluarga yang bahagia, menurutnya, di dalamnya adalah orang-orang yang mengalami sukacita karena ditebus oleh Kristus sendiri. “Inilah keluarga Kristiani, keluarga yang bahagia. Maka kumpulan dari orang-orang yang bahagia inilah membentuk Gereja yang bahagia,” katanya dalam acara bertema “Bahagia Keluargaku, Bahagia Gerejaku” itu.
Meski demikian, keluarga saat ini dihadapkan pada tantangan teknologi komunikasi yang kalau tidak hati-hati membuat masing-masing individunya larut dalam ruang digital masing-masing, sibuk dengan HP masing-masing. “Memang dengan kemajuan zaman seperti sekarang ini kita tidak bisa lepas. Mau tidak mau kita harus ngrengkuh atau katakanlah menggauli, bahasa saya, menggauli kemajuan zaman. Dalam arti tidak pernah meninggalkannya, namun juga tetap harus ada keugaharian,” katanya dalam acara yang diselingi pemutaran 9 film buah karya umat di paroki-paroki Kevikepan Surakarta itu.
Maka, Mgr Rubi menegaskan, pentingnya perjumpaan dalam keluarga seperti berkumpul bersama, makan bersama, atau saling bercerita. Keluarga-keluarga diharapkan ada waktu bersama-sama. “Ketika bersama dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Pengalaman kami di paroki-paroki, di pastoran-pastoran, terutama di Keuskupan selalu memanfaatkan waktu makan pagi, makan malam, makan siang bersama itu sebagai kesempatan untuk sharing, untuk ngobrol, untuk mengungkapkan pengalaman-pengalaman sepanjang hari itu. Dan itulah yang mengatasi akhirnya, akhirnya, menurut hemat saya, komunikasi secara langsung itu menjadi salah satu kunci untuk mengatasi banyak perkara,” tutur Mgr Rubi.
Mgr Rubi sebagai anggota keluarga pun pernah mengalami kesulitan-kesulitan terutama waktu kecil bersama orang tua dan saudara-saudarinya. “Yang pertama berkaitan dengan soal kekurangan. Belum panen sudah didol (dijual). Itu pengalaman kami dalam keluarga. Tanah, lemah dalam arti dijual namun diburuh, kemudian bapak-simbok saya yang mengerjakan. Jadi, gali lubang tutup lubang itu satu pengalaman yang sangat konkret sekali,” katanya. Ia merasakan jerih payah orang tuanya dalam menghidupi keluarga mereka sedemikian rupa. Orang tuanya juga berusaha mendidik anak-anaknya dengan baik misalnya saat makan bersama. “Bagi saya menjadi pengalaman yang sangat konkret sekali waktu ke sini, ketika makan simbok saya selalu bagi (makanan) dengan sekian banyak anak anak ya, dibagi padha (sama) dan coba untuk mengajak anak-anak untuk memperhatikan satu sama lain. Itulah salah satu kegembiraan kami. Kebersamaan itu menjadi kekuatan yang akhirnya merekatkan relasi kami sampai sekarang ini,” katanya.
Kedekatan antar anggota keluarganya sangat terasa sekali. “Bahkan ketika malam kami selalu akan ada acara doa bersama. Kemudian ketika kami tidur, bapak dan simbok saya akan keliling dari kamar ke kamar, memberi tanda salib di dahi kami masing-masing. Dan itu sungguh sangat menentramkan,” ungkapnya.
Dalam wawanhati itu, seorang audiens bertanya terkait turunnya jumlah panggilan orang muda menjadi imam, bruder, maupun suster. Menanggapi pertanyaan itu, Mgr Rubi menjelaskan beberapa penyebab. Menurutnya, saat ini jumlah anak muda itu sangat sedikit. “Zaman saya kecil, bapak-simbok saya mempunyai anak 10, yang hidup enam. Iya. Keluarga besar nggak jadi masalah. Sekarang ini banyak keluarga yang cenderung untuk membatasi anak. Satu cukup, dua berlebih, tiga malapetaka, ya toh? Empat itu wis mbuh ra weruh,” katanya diakhiri seloroh. Meski demikian, menurutnya, 2 tahun terakhir, ada peningkatan panggilan karena dibarengi dengan upaya-upaya promosi panggilan terus-menerus. “Memang panenan selalu banyak, namun pekerja selalu sedikit ya. Artinya terpilih, betul-betul terpilih. Banyak anak-anak yang mencoba menanggapi. Namun toh, akhirnya juga di jalan akhirnya menemukan ini bukan panggilannya,” ungkapnya.
Menurutnya, keluarga-keluarga Katolik mempunyai tanggung jawab mempersiapkan anggota-anggota Gereja terutama anak-anak supaya menjadi gembala-gembala umat. “Keluarga tidak hanya bertanggung jawab untuk menyekolahkan saja, namun juga mempersiapkan supaya di antara mereka ada yang terpanggil untuk jadi imam, bruder dan suster. Saya selalu mengatakan pada calon-calon pasangan yang baru, orang-orang muda supaya menyadari tanggung jawab ini. Meskipun dalam perjalanan tidak akan semua jadi romo, bruder, dan suster. Ada yang mreteli dalam arti karena memang menyadari ini bukan panggilannya atau dianggap tidak pas atau tidak mempunyai panggilan dan lain sebagainya. Atau jané dipanggil namun ternyata lebih tertarik pada jalan yang lain. Ini kenyataan yang kita hadapi. Meskipun demikian, kita yakin bahwa Gereja Katolik tetap akan eksis, tetap akan berjalan terus sebagaimana Tuhan menjanjikan kuasa maut tidak akan menghancurkannya,” kata Mgr Rubi.
Terkait dengan menurunnya panggilan, Mgr Rubi mengakui ada banyak kekurangan di sana-sini. “Ada banyak hal yang kadang-kadang kehidupan kami para romo tidak memberikan teladan yang baik,” katanya. Ia pun mengajak umat supaya bersama-sama saling mendoakan, saling membantu, saling tolong-menolong untuk kebersamaan, supaya akhirnya yang ada adalah sukacita atau kebahagiaan bersama.
Selain tentang panggilan, seorang audiens meminta pendapatnya terkait guru yang di sekolah mengajar dengan baik, namun tidak bisa mendidik anaknya di rumah dan orang yang aktif di gereja namun rumah tangganya berantakan. Mengomentari hal itu, Mgr Rubi berpendapat bahwa itu adalah realitas yang dihadapi. Meski demikian, Mgr Rubi mengajak untuk bersyukur. “Namun kita masih bisa bersyukur dalam arti begini, masih ada sesuatu yang baik. Guru masih bisa bekerja dengan baik di sekolah, meskipun di rumah tidak bisa mendidik anak dengan baik. Umat masih bisa terlibat di Gereja meskipun di rumah berantakan. Daripada dua-duanya berantakan. Iya kan? Minimal ada satu dipegang gitu,” katanya. Menurutnya, keberanian mengakui kelemahan adalah hal yang penting. Mgr Rubi mengajak supaya memandang secara positif. “Memang idealnya apa yang kita lakukan semuanya serba baik, ya di rumah, ya di gereja ya, di tengah masyarakat. Namun, kita sadar betul ada begitu banyak kekurangan sana-sini, mencoba untuk terbuka dan keterbukaan mengakui kekurangan itu menjadi salah satu kekuatan dalam keluarga kita,” ungkapnya.
Selanjutnya, Mgr Rubi justru mengajak untuk saling mengampuni dan merangkul, ngrengkuh, tidak menyingkirkan. “Inilah salah satu hal yang harus kita buat untuk hemat saya ya. Salah satu bentuk kemurahan hati, belas kasih, dan sekaligus perhatian,” katanya.
Pada era serba digital ini, tak jarang ada anggota keluarga yang terjerat judi online (judol) atau pinjaman online (pinjol). Alih-alih memuluskan laju roda ekonomi, yang terjadi adalah ekonominya makin terpuruk. Dalam situasi itu, Gereja dipanggil untuk memberi perhatian. “Salah satu hal yang saya rasa penting untuk kita lakukan adalah mencoba untuk membantu umat kita memberikan penyadaran, pengetahuan yang mencukupi supaya umat kita tidak terjerat ke sana. Nah, tentu saja pembelajaran ini dibarengi dengan sikap kemurahan hati. Kemurahan hati yang menyejahterakan. Salah satu tema dari Ardas kita adalah mensejahterakan. Itu terkait dengan masalah ini. Kita menyadari bahwa ternyata dalam kalangan umat kita sendiri pun ada begitu banyak yang hidup dalam kondisi prasejahtera.
Ini tanggung jawab kita bersama. Maka kita mencoba mengembangkan supaya menggunakan dana-dana sosial yang ada untuk membantu, untuk membantu umat kita bahkan masyarakat pada umumnya yang sungguh-sungguh berkebutuhan untuk mendapatkan bantuan itu. Jangan sampai, jangan sampai dana-dana yang ada, dana sosial yang ada menumpuk,” katanya. Terkait dengan penanganan pinjaman online yang memberatkan umat, Mgr Rubi menegaskan, sejauh dimungkinkan tidak masalah. “Apakah kita berani atau boleh untuk membantu orang-orang yang terjerat karena pinjol dengan dana sosial yang ada? Sejauh dimungkinkan dalam arti sejauh ada, menurut saya tidak ada masalah. Siapapun yang memang perlu dibantu kita bantu sejauh kita mampu. Ini menurut hemat saya. Tentu dibarengi dengan pembelajaran supaya tidak nggampangké. Iya, ini saya rasa salah satu yang harus kita kembangkan dalam rangka mensejahterakan secara keseluruhan,” ungkapnya.
FIBB
Dalam kesempatan itu, Mgr Rubi juga menegaskan kembali tentang Formasio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB) yang dalam beberapa waktu ini menjadi perhatian Keuskupan Agung Semarang. Menurutnya, FIBB adalah sebuah tuntutan yang tidak bisa tidak harus ada dalam Gereja. “Karena kita sadar betul bahwa katekese, pembinaan iman menjadi kunci untuk eksistensi dan perkembangan Gereja,” katanya. Namun, katekese yang baik, menurutnya, adalah katekese yang membumi. “Membumi dalam arti bukan hanya dalam tataran pemahaman intelektual, namun bagaimana bisa dicakké ning urip (diterapkan dalam hidup), bisa menyentuh pada kehidupan yang nyata,” tegasnya.
Mgr Rubi juga mengapresiasi salah satu program di Kevikepan Surakarta adalah “Keluarga Merawat Iman”. “Ini dampaknya luar biasa, hasilnya luar biasa. Dan ini dikembangkan terus sehingga anak-anak mulai dari kecil sudah dilatih untuk, untuk apa itu untuk membangun keluarga yang baik bersama keluarganya,” katanya.
Selain dengan tayangan seperti film, katekese yang membumi bisa juga dilakukan dengan diskusi ataupun pembicaraaan yang semakin membantu untuk memperkaya pemahaman iman. Dalam hal ini, Mgr Rubi menaruh perhatian pada keluarga-keluarga muda yang dalam berbagai kasus, setelah menikah tidak diperhatikan. “Padahal pada tahun-tahun pertama banyak persoalan entah penyesuaian diri, entah masalah ekonomi dan lain sebagainya. Maka perlu ada program-program yang berjenjang dan berkelanjutan. Meskipun dalam praktik kadang-kadang keluarga-keluarga muda tidak banyak berminat. Padahal mereka yang seharusnya, menurut saya, perlu mendapatkan perhatian lebih ketika di awal di tahun-tahun awal perkawinan mereka,” ujar Mgr Rubi.
Dalam wawanhati itu, seorang audiens muda bertanya tentang cara mengatasi kekeringan iman. Dengan gamblang, Mgr Rubi menjelaskan, mengalami kekeringan iman itu pertanda yang bagus. Ia pun berkisah tentang kekeringan iman yang pernah dialaminya. “Ketika saya mengalami kekeringan iman waktu itu di seminari berbulan-bulan rasanya kering, ampang, namun saya berjuang terus-menerus dan ternyata itu menjadi bermakna. Ketika meskipun dalam kondisi seperti ini saya tekun dalam rutinitas doa, tekun dalam rutinitas pekerjaan. Ternyata suatu saat akhirnya mengalami buahnya, yakni tiba-tiba ada kenyamanan lagi, ada kegembiraan kembali,” katanya.
Menurutnya, jika seseorang mengalami kekeringan asalkan diatasi dengan sebaik mungkin dan tetap bertahan dalam perjuangan, itu bisa menjadi satu langkah lebih maju dalam pendewasaan iman. “Maka pertanyaan-pertanyaan yang muncul atau perasaan-perasaan yang muncul itu bisa menjadi pertanda yang bagus dan menjadi tahapan yang bagus asalkan kita serius untuk mengatasinya. Cara mengatasinya adalah bukan dengan berhenti berdoa, namun justru harus dengan tekun berdoa terus-menerus tanpa kenal lelah dan rutinitas tetap dijaga. Ini dari pengalaman saya. Pengalaman-pengalaman kekeringan saya rasa akan selalu terjadi dalam kehidupan kita entah karena kelelahan, karena merasa doanya nggak dikabulkan atau karena yang lain-lainnya itu selalu dimungkinkan. Namun ketekunan dalam rutinitas, bagi saya, menjadi kunci untuk bisa mengatasi problem itu. Kalau bisa mengatasi, kita bisa selangkah lebih maju dalam beriman kepada Tuhan,” tutur Mgr Rubi.
Mgr Rubi juga menekankan pentingnya keluarga menjadi katekis yang pertama dan utama. “Sebagaimana kita yakini, kita pahami, bahkan berulang kali kita nyatakan dengan penuh kebanggaan adalah, anak itu titipan Dalem Gusti yang diberikan kepada keluarga. Bahkan juga dalam praksis hidup berkeluarga selalu kita harapkan supaya orang tua senantiasa melihat panggilan hidup berkeluarga sungguh-sungguh dilandaskan pada iman. Maka kita sangat bersyukur, berterima kasih kalau pasangan suami istri itu bisa menikah di gereja dan sungguh-sungguh mendasarkan semuanya dalam kerangka menanggapi panggilan Tuhan untuk hidup berumah tangga. Dan dalam perjalanan juga selalu menghadirkan Tuhan di sana. Maka, bagaimana caranya menjadi katekis yang utama dan pertama bagi anak-anak, itu sudah kita mulai sejak ketika orang tua atau pasangan suami-istri menghendaki keturunan. Mohon kepada Tuhan agar diberi keturunan yang sehat, yang sempurna, yang sungguh-sungguh nantinya menjadi orang yang beriman,” katanya.
Bahkan, menurutnya, ketika anak-anak sudah dikaruniakan dalam kandungan, sudah mulai dididik sejak awal. Bukan karena mengandung lalu tidak ke gereja lagi, sebaliknya, katanya, dengan alasan mengandung justru harus tekun dimohonkan berkat Tuhan di gereja, dibawa dalam doa. “Ini semua salah satu bentuk cara yang sangat konkret sekali bagaimana mendampingi anak dalam kandungan supaya menjadi orang yang beriman sungguh, iya. Dan nanti dalam perjalanan pun juga akan begitu, termasuk menceritakan hal-hal yang baik, mendampingi dengan hal-hal atau ajaran-ajaran moral yang baik,” lanjutnya.
Mgr Rubi pun menyampaikan hasil survei yang dilakukan oleh Komisi Seminari KWI beberapa waktu yang lalu. “Dari 442 seminaris seminari menengah se-Jawa, itu rata-rata mengungkapkan bahwa panggilan bertumbuh berkembang justru karena dari keluarga. Justru keluarga mempunyai peran yang besar sekali untuk menaburkan panggilan itu melalui cerita-cerita, melalui sapaan-sapaan, melalui ingatan-ingatan dan juga melalui tradisi hidup doa yang baik, tak kenal lelah, tak kenal henti,” katanya.
Lebih lanjut, Mgr Rubi menyampaikan, katekese yang paling konkret dan paling nyata dari orang tua adalah memberikan teladan. “Anak-anak biasanya belajar konkret langsung dari contoh-contoh yang ada. Anak-anak kalau di rumah dibiasakan dengan kata-kata yang kasar, otomatis juga akan menjadi orang yang kasar. Kalau dibiasakan dengan kata-kata yang lembut, sapaan-sapaan yang lembut dengan penuh pengampunan, otomatis juga nanti akan terbantu untuk menjadi pribadi yang penuh ampun. Contoh keteladanan orang tua pada anak itu menjadi sesuatu yang sangat mutlak untuk katekese bagi keluarga,” tuturnya.
Formasio OMK
Mgr Rubi berharap, Gereja memiliki umat yang beriman integral, tak terkecuali orang muda Katolik. “Kita berharap ya bahwa kita mempunyai orang-orang atau Umat Katolik yang sungguh-sungguh integral. Integral itu sungguh-sungguh mempunyai kedewasaan dalam semua bidangnya, entah secara fisik, entah secara spiritual, secara intelektual, secara sosial dan kemasyarakatan. Ini harapan kita. Pendidikan selalu akan mengarah kepada pembentukan pribadi-pribadi yang dewasa, yang integral, dan seimbang. Maka kalau nanti penekanan hanya pada soal studi, intelektual, nanti hanya ‘besar kepalanya’, hatinya kerdil. Maka ini harus menjadi kesadaran bersama-sama baik kita orang muda maupun keluarga-keluarga supaya sungguh memberi perhatian soal ini. Yang kita harapkan adalah terbentuknya orang-orang muda yang sungguh-sungguh dewasa, integral, penuh, utuh, dan seimbang. Karena dengan cara inilah orang akan menjadi pribadi yang sungguh kita pandang sebagai pribadi yang sempurna dan berkenan. Maka kesadaran ini saya rasa juga harus ditumbuhkan di dalam diri anak-anak kita sendiri supaya mereka juga dari dalam ada krenteg, ada niat, ada kehendak untuk melibatkan diri dalam berbagai macam dinamika kehidupan bersama. Jangan sampai menjadi orang-orang yang asosial, yang tidak srawung, namun sebaliknya sungguh-sungguh mempunyai hati untuk keterlibatan dalam kebersamaan ini,” demikian tutur Mgr Rubi.
Selanjutnya, Mgr Rubi menyampaikan kondisi demografi Umat KAS yang kalau diilustrasikan grafiknya seperti bawang terbalik, lansia yang sungguh-sungguh tua sedikit, yang dewasa sudah usia cukup itu banyak. Kemudian yang anak-anak sedikit sekali. “Kalau kita perhatikan, pertambahan umat kita itu hanya ada dua, dari kelahiran atau dari orang-orang yang dibaptis dewasa, hasil pewartaan atau apa pemberitaan kita. Nah, memang kalau dilihat dari sisi jumlah masih kurang lebih stabil ya, masih dalam arti masih lumayan kalau dibandingkan dengan memperhitungkan pertobatan-pertobatan dewasa. Namun kalau dilihat dari sisi kelahiran tok itu nampaknya akan menurun dengan drastis,” katanya. Maka, menurutnya, salah satu terobosan yang harus dibuat adalah memberikan pemahaman atau katekese sejak awal kepada keluarga-keluarga muda, OMK, orang muda masa persiapan perkawinan, disampaikan bahwa tanggung jawab sebagai orang tua atau hidup berkeluarga antara lain adalah bertanggung jawab atas kelangsungan Gereja. “Itu berarti semakin, semakin banyak keturunan semakin baik ya. Meskipun pandangan ini untuk zaman sekarang dianggap sebagai sesuatu yang kolot atau apa, namun sebenarnya ini sesuatu yang sangat riil, kelangsungan Gereja, kehidupan Gereja hanya akan terus baik kalau ditopang oleh kelahiran dari dalam. Karena ini yang akhirnya menjadi kekuatan kita nantinya,” katanya.
Pemahaman atau katekese ini harus disampaikan pada mereka yang masih OMK, menurutnya, supaya mereka tidak tergerus oleh arus dunia sekarang ini yang cenderung bebas tidak mau punya anak. “Anaknya sesedikit mungkin atau bahkan hidup bersama tanpa ikatan nikah. Ini tren-tren dunia yang bisa menggerus Gereja kita. Maka mesti kita lawan dengan cara mengembangkan, mendengung-dengungkan mengenai panggilan hidup berkeluarga yang baik,” katanya.
Paus Fransiskus, menurutnya, pada awal masa pontifikatnya menekankan soal panggilan berkeluarga itu menggembirakan. “Sukacita hidup berkeluarga mesti disampaikan kepada anak-anak. Jangan sampai menunda-nunda perkawinan karena malas nikah, malas punya anak dan lain sebagainya. Kecenderungan orang muda sekarang adalah atau kecenderungan kita sekalian adalah mencari hal yang praktis. Jangan-jangan ini dipengaruhi atau dikuasai oleh egoisme yang sangat mendalam sampai tidak mau nikah, tidak mau punya anak, tidak mau mempunyai keturunan,” katanya.
Pada bagian akhir, Mgr Rubi menegaskan, Gereja yang bahagia tergantung dari keluarga-keluarga. “Kita mengharapkan atau mencanangkan dalam Ardas IX, Gereja yang Bahagia, Menginspirasi dan Mensejahterakan. Dan kita tahu bahwa Gereja yang bahagia sangat tergantung dari keluarga-keluarga. Maka marilah kita jadikan keluarga kita menjadi rumah yang sungguh-sungguh membuat orang nyaman, membuat orang bersukacita, dan membuat luka-luka tersembuhkan dalam keluarga. Keluarga kita jadikan sekolah iman yang pertama dan utama hingga akhirnya semua mengalami sukacita. Ini harapan saya,” pungkasnya.
