Pangan adalah sebuah misteri kehidupan manusia. Uskup Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo mengatakan hal itu untuk menegaskan salah satu alasan Gereja Katolik memberi perhatian pada Hari Pangan Sedunia (HPS). “Manusia hidup ya dari makan. Itu secara, secara sederhana tidak usah dengan refleksi yang terlalu mendalam dan tidak perlu rujukan apapun bahwa manusia kalau mau hidup ya makan gitu ya,” kata Mgr Didik dalam Dialog Pangan bertema “Pangan yang Menghidupkan” dalam rangka Hari Pangan Sedunia (HPS), di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, 27 Oktober 2025.
Ia pun teringat tatkala masih frater pada tahun 80-an membaca buku “Nasi dan Allah: Kebudayaan Asia dan Iman Kristen” yang ditulis seorang teolog dari Jepang bernama Masao Takenaka. “Bagaimana nasi itu? Sebenarnya dari seluruh aktivitas kita ini ada aktivitasnya itu bisa seakan-akan sangat bergengsi dan entah mulai jadi dosen, mahasiswa, jadi agamawan, jadi presiden, jadi profesor, tapi di balik itu, aktivitas itu semua adalah kalau pagi makan. Siang makan lagi. Malam makan lagi. Tanpa itu semuanya itu nonsense. Termasuk sebenarnya hubungan kita dengan Tuhan itu sebenarnya seumpama peran nasi di dalam kehidupan kita ini,” kata uskup yang biasa disapa Mgr Didik itu.
Menurutnya, religiositas manusia sebenarnya adalah sebuah kanvas latar belakang seperti peran nasi di dalam kehidupan. “Sehingga siapakah sebenarnya dari para mahasiswa ini yang begitu bersyukur karena di piringnya ada nasi gitu? Ini yang sebenarnya dasar dari religiositas dan baik agama-agama selalu akan berhubungan dengan apa yang dimakan. Sehingga Yesus pun mengumpamakan Dirinya makanan, sehingga ‘Inilah tubuh-Ku, makanlah!’, sehingga ini sebenarnya fungsinya menjadi seperti ‘nasi’,” kata Mgr Didik dalam acara yang diikuti banyak mahasiswa itu.
Terkait dengan HPS, menurutnya, karena diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), HPS mestinya menjadi gerakan semua negara, bukan hanya agama. Menurutnya, dalam dinamika dunia, bahkan perang pun sebenarnya berebut pangan. “Jadi membuat senjata sampai satu kali luncur bisa membunuh 100.000 orang itu ya masalah makan sebenarnya,” katanya.
Ketika Gereja turut dalam masalah pangan yang secara eksplisit dalam perayaan HPS, menurut Mgr Didik, sebenarnya untuk kembali menegaskan bahwa hakikat dari kehidupan ini adalah masalah makan. “Kalau berbicara tentang makan itu sebenarnya ini adalah sebuah rangkaian yang sangat kompleks. Maka ketika berbicara makan, berbicara tentang tanah, berbicara tentang ekologi, ekosistem. Kalau berbicara tentang makan itu berarti berbicara tentang sikap hidup dasar terhadap Pencipta. Kalau berbicara makan itu berarti berbicara masalah keadilan akses. Kalau berbicara tentang makan, itu berbicara masalah sosial politik kemasyarakatan, kebijakan-kebijakan politik,” katanya.
Paus Leo XIV dalam Dilexi Te (Aku Mencintai Kamu) pun menyinggung urusan pangan. Dilexi Te, menurutnya, bukan masalah cinta romantis, atau cinta kepada Tuhan yang mengharu biru dengan kekhusukan. “Ternyata dokumen ‘Aku Mencintai Kamu’ ini masalah makan, masalah keadilan, masalah kemiskinan dan ketimpangan di dunia saat ini. Maka, saya juga heran tentang pangan, itu disebut enam kali di dalam dokumen ini,” katanya.
Menurut Paus Leo XIV, seperti disampaikan Mgr Didik, pangan adalah tanggung jawab politik. “Sehingga dia, menarik ketika mengatakan kelaparan dunia adalah sebuah kegagalan kolektif,” ungkapnya.
Mgr Didik melanjutkan, Paus menyebut saat ini ada 673 juta orang yang tidur dalam keadaan lapar dan 2,3 miliar di dunia ini mengalami kekurangan gizi.
Maka, sambungnya, bagi Paus Leo XIV, sekarang panggilan keagamaan dalam Gereja Katolik adalah bagaimana ambil bagian di dalam pemulihan gizi dan akses keadilan bagi pangan. “Barang siapa menderita kelaparan, bukanlah orang asing bagi kalian. Dia adalah saudara kita dan kita tidak bisa tidak punya tanggung jawab moral untuk melakukan sesuatu,” ungkapnya.
Mgr Didik juga mengingatkan komunitas akademik Fakultas Teknologi Pangan, dalam proses studinya selain belajar mengolah makanan, belajar tentang kimiawi makanan, juga perlu menyadari sejarah jejak peradaban makanan dan sejauh mana pentingnya makanan bagi kita.
Mgr Didik berharap baik Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) maupun Fakultas Kedokteran diharapkan bisa melihat keajaiban kehidupan dalam studi.”Paling nggak itu yang paling kasat mata. Bagaimana seorang calon dokter ketika belajar anatomi itu kan melihat betapa ajaibnya kehidupan. Demikian juga saya kira di FTP. Nah, sekarang di sini misalnya apakah juga diajari, kalau saya, kakek saya dulu itu makan kok sisa satu upa (nasi), wah, saya dimarahi. Dan kakek saya selalu menyisakan sepertiga kira-kira dari piringnya dia itu untuk rebutannya cucu-cucunya dan nggak boleh sisa. Nah, artinya ketika sejauh mana sih ketika kita melihat makanan itu melihat Allah, melihat sebuah keajaiban hidup. Karena ini adalah sumber kehidupan, paling tidak lewat secara fisik, biologis, fisiologis. Tetapi sebenarnya masalah pangan itu nanti lalu saya juga pernah diajari oleh guru agama saya dulu itu, kalau kamu makan, kamu jangan lupa nasi ini dari mana? Itu dari sawah. Iya. Siapa yang menggarap? Petani. Petani itu punya anak, punya istri. Mereka ternyata yang memasok pangan ke kita ini. Mereka tentu belum sebisa, sebahagia kita kayak gitu. Maka ketika kamu makan, kamu harus berdoa bagi para petani dan keluarganya. Nah, itu hal-hal yang ada dimensi-dimensi religius ya, yang sebenarnya literasi sosial, literasi keadilan yang bisa terbangun. Misalnya untuk kimia, kimia makanan gitu ya dalam teknologi pangan, bagaimana melihat pangan, unsur-unsur kimia di dalam makanan,” katanya.
Mgr Didik juga menekankan pentingnya puasa dan ugahari. Misalnya, dibanding waktu muda, sekarang harus mengurangi porsi makanan supaya sehat dan hidup dengan baik. Selain ada dimensi puasa, menurutnya, ada keutamaan-keutamaan untuk tidak serakah di dalam dunia pangan dan itu sangat spiritual.
Mgr Didik juga berpesan kepada pelaku teknologi pangan yang mengolah pangan, “bagaimana ini bukan hanya masalah memandang wajah kapital, tetapi memandang wajah rakyat, memandang wajah kemiskinan, memandang wajah Tuhan ketika kita ini mengolah masakan.” “Jadi supaya tidak sekadar ini proses komodifikasi tadi. Seakan-akan ini hanya melihat apa saja itu duit, duit, duit. Duit memang penting, namun, Mgr Didik mengajak untuk bertolak makin dalam. “Tetapi bagaimana bisa menjadi lebih jauh, lebih dalam kalau istilahnya itu duc in altum gitu ya, itu menaburkan jala di tempat yang lebih dalam dari sekadar mengolah makanan untuk dijual dan dapat untung, bukan sekadar itu. Tapi jalanya itu bukan hanya menjala duit, tapi juga menjala jiwa, menjala sesuatu yang lebih dalam. Sehingga oh, aku membuat makanan, makanan ini akan menyehatkan. Makanan ini aku sungguh-sungguh upayakan untuk tidak beracun. Bagaimana makanan ini tidak mengandung mikroplastik, bagaimana macam-macam itu ya. Dan itu sehingga masalah teknologi pangan itu menjadi sebuah teknologi spiritual gitu ya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia berpesan kepada komunitas akademik FTP Unika Widya Mandala supaya dalam proses pembelajaran maupun praktik selalu berusaha untuk mencari wajah Tuhan. Ia pun menukil Kitab 1 Tawarikh 16:11, “Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu”. “Jadi, semoga para mahasiswa kita pun tetap menemukan wajah Tuhan dalam hal praktikum, dalam studi, dalam eksperimen-eksperimen, dan juga dalam menemukan wajah Tuhan dalam problem-problem pangan dan kemiskinan itu, problem ekologi, problem tanah, problem gizi dan sebagainya,” katanya.
