Menjadi Umat Katolik Yang Bahagia

Oleh BAPAK JULIUS KARDINAL DARMAATMADJA, SJ

Bahagia Itu Menarik

Ketika pertanyaan disampaikan kepada seorang katekis paroki,apakah masih ada orang baptis dewasa yang datang untuk menjadi Katolik,padahal dari umat agama lain? Jawabnya ternyata ada. Ia ingin menjadi Katolik bukan karena akan menikah dengan gadis Katolik. Ketika ditanyakan lebih lanjut, alasannya ternyata karena ia melihat hidup keluarga-keluarga Katolik itu bahagia. Mereka yaitu bapak, ibu dan anak-anak bersama-sama pergi ke gereja yang tidak jauh dari rumahnya, jalan kaki pada hari Minggu. Semua mereka kelihatan bahagia. Bersenda gurau di jalan saling bertukar cerita satu sama lain. Mereka kelihatan akrab dan rukun.Menarik dan menyenangkan dipandang mata. Menurut calon baptis tadi dia tidak hanya melihat satu dua keluarga saja. Bahkan dia melihat di paroki itu kebanyakan begitu. Ia juga ingin hidup bahagia seperti mereka.Syukurlah bahwa demikian. Ternyata keluarga yang bahagia memiliki daya kuat untuk pewartaan iman.

Pertanyaannya apakah semua keluarga Katolik begitu? Bahagia hidupnya?Menurut pastor parokinya, ada juga keluarga yang tidak bahagia, karena bertengkar terus antara suami dan isteri. Anak-anak mereka jarang di rumah karena suasana di rumah panas terus. Mereka pergi ke tempat teman-teman sekolahnya. Pulang hanya untuk makan dan tidur. Keluarga itu dan anak-anak mereka jarang kelihatan ke gereja. Apalagi ikut kegiatan-kegiatan paroki. Anak-anak tidak terlibat seperti anak-anak Katolik lainnya,menjadi pelayan misa, ikut mengatur parkir mobil atau sepeda. Keluarga yang tidak bahagia tersebut ada yang sudah cerai dengan isterinya. Anak-anak ikut ibunya. Karena malu, mereka sudah tidak lagi ke gereja. Ada yang malah berganti agama.

Maka bukan karena Katolik, atau sudah dibaptis saja yang dengan sendirinya membuat mereka bahagia. Melainkan bagaimana iman Katolik mereka hayati dan hidupi dengan tekun, dengan baik, dan mendalam. Ada semangat kasih, pengampunan satu sama lain, sehingga hidup mereka damai. Iman Katoliknya terpancar dalam perilaku mereka, sehingga menarik untuk dilihat. Suami dan isteri tampak terlibat aktif menjadi pengurus atau anggota koor, ikut kelompok pendalaman iman, menjadi prodiakon paroki, menjadi ketua lingkungan atau ketua stasi. Mereka juga peduli terhadap tetangga mereka. Yang sakit dikunjungi dan yang miskin dicarikan cara untuk keluar dari kemiskinan mereka. Tak segan-segan mereka membantu, sehingga mereka dicintai banyak orang. Kalau ingin menjadi umat Katolik yang bahagia, perlu menjaga kualitas hidup berimannya.

Kualitas Hidup Beriman

Kualitas hidup beriman tersebut dasarnya ada pada kesetiaan terhadap ketetapan-ketetapan yang tentu bersumber dari Allah sendiri, dari Tuhan Yesus yang terekam dalam Kitab Suci dan dari Ajaran Gereja:

1. Ajaran Kasih kepada Tuhan dan kepada sesama. Sabda Yesus dalam Kitab Suci. (Mat. 22:34-40; Mrk 12:28-34; Luk:10:25-28) “Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka,seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40).Ketiga penginjil merumuskan hukum kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Injil Yohanes menulis, “Yesus bersabda: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu1 jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh 13:34-35). Menurut Yohanes, mencintai sesama ukurannya bukan diri sendiri (seperti diri sendiri) tetapi seperti Yesus sendiri. Lebih sempurna.

2. Gereja kita telah menetapkan sebagai pedoman hidup, yaitu 10 Firman Allah dan 5 Perintah Gereja (Puji Syukur 1992, hal 5, no 6 dan 7):

a). Sepuluh Firman Allah. Bersumber dari Perjanjian Lama,yaitu.

  1. Jangan menyembah berhala. Berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.
  2. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat.
  3. Kuduskanlah hari Tuhan.
  4. Hormatilah ibu-bapamu.
  5. Jangan membunuh.
  6. Jangan berzinah.
  7. Jangan mencuri.
  8. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.
  9. Jangan mengingini isteri sesamamu.
  10. Jangan mengingini milik sasamamu secara tidak adil.

b). Lima Perintah Gereja:

  1. Rayakan hari raya yang disamakan dengan hari Minggu.
  2. Ikutlah perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan hari raya yang diwajibkan, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.
  3. Berpuasalah dan berpantanglah pada hari yang ditentukan.
  4. Mengaku dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun.
  5. Sambutlah Tubuh Tuhan pada masa Paskah.

3. Beriman adalah berelasi dengan Tuhan, dengan Allah Tritunggal,secara khusus melalui Tuhan Yesus. Maka beriman adalah mengasihi dan berbakti kepada Tuhan Yesus. Cinta baktinya dinyatakan dalam setia hidup melaksanakan kehendak Allah dan Tuhan Yesus yaitu dengan melaksanakan Hukum Kasih kepada Allah dan sesama (lahat KS), dan dengan memenuhi 10 Perintah Allah dan 5 Ajaran Gereja seperti telah diuraikan sebelumnya. Apapun yang kita lakukan dan perbuat, kita buat untuk memuliakan Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus. Maka kita juga memahami ketika Paulus menulis surat kepada umat di Kolose begini: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan,lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita”. (Kol 3:17). Dan lagi: “Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol 3:27). Memang semua yang kita buat kepada siapapun, itu kita buat demi Tuhan, maka untuk Tuhan.Dengan demikian kita perbuat sebaik-baiknya. Dan dengan demikian juga Tuhan berkenan. Ini sumber kebahagiaan bagi kita.

Mereka yang melaksanakannya, dalam hati nurani akan merasakan damai.Damai karena Allah berkenan kepada mereka dan memberikan damai di hati nuraninya. Dalam hatinya sendiri, yang sadar bahwa Allah berkenan,dan karenanya yakin bahwa akan menerima kemuliaan surgawi, yang diharapkan dan dirindukan. Hatinya damai.

Kiranya istilah kesetiaan itu penting. Kesetiaan akan hidup kristiani itulah yang membuat orang damai, karena yakin akan menerima kemuliaan surgawi.Pada tanggal 22 Desember 2025 Paus Leo XIV menerbitkan Surat Apostolik yang judulnya: “Kesetiaan yang melahirkan calon Paus Leo XIV.”Kesetiaan tidak hanya soal akan menerima kebahagiaan kekal yang membuat orang bahagia. Sebelum itu dapat terjadi sudah membuahkan tokoh-tokoh Gereja.

Dalam Inspirasi no. 255 telah kami uraikan, bahwa bahagia yang dialami umat beriman yang setia menghayati iman dan ketetapan-ketetapan hidup kristiani, tetap dialami meskipun sedang hidup dalam penderitaan. (Bdk.Gereja yang Bahagia, Menginspirasi dan Menyejahterakan). Alasannya ialah: Pertama seperti Paulus, kita yakin: “… bahwa, penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”” (Rom 8:18). Kedua, saat kita menderita demi Kristus atau demi iman kita, kita dikuatkan oleh Allah. Kita ingat nasihat Paulus: “Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi,meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.” (1 Ptr 5:10). Dan tak ada kesusahan dan penderitaan seberat apapun yang dapat mengalahkan kebahagiaan itu.Maka tak mengherankan bahwa para martir yang mendapat siksaan kejam, justru ada yang bernyanyi. Bahagia karena iman akan Tuhan Yesus Kristus itu menyelamatkan. Bahagia karena memiliki harapan akan keselamatan. Tidak hanya pribadi-pribadi, keluarga-keluarga, para suster,bruder dan imam yang setia pasti memancarkan kebahagiaan dalam hidup mereka.

Kesetiaan Perlu Diperjuangkan

Kalau kita sudah mampu setia, itu berarti bahwa kita sudah ada dijalan menuju kesucian hidup. Sebaliknya kenyataan menunjukkan bahwa kita masih kerap jatuh dalam dosa. Kita masih kurang setia dalam hal-hal tertentu, meski sudah setia dalam banyak hal lainnya. Kesetiaan masih perlu diperjuangkan. Memang realitas hidup kita tidak lepas dari kuasa Allah, tetapi juga tidak lepas dari kuasa dosa. Hidup manusia bagaikan medan perebutan antara Setan yang mau mencelakakan manusia, dan kasih kerahiman Allah yang berusaha menyelamatkan manusia. Maka kita selalu waspada dan mawas diri. Mencermati perilaku kita didorong oleh kuasa Allah sehingga melahirkan perilaku yang serba baik, benar, jujur dan adil, penuh kasih dan peduli kepada sesama. Atau sebaliknya didorong oleh kuasa dosa, sehingga melahirkan perilaku sebaliknya. Kuasa dosa dan kegelapan ini mendorong orang untuk memuaskan segala nafsunya,memuaskan diri pada harta, pangkat kedudukannya di tengah masyarakat.Sehingga melahirkan perilaku yang tidak baik, tidak benar, tidak adil, tidak jujur, sombong, angkuh, tak peduli orang lain, mendengki, membalas dendam, memusuhi, mendorong ke perselisihan-perseteruan, percekcokan,ataupun perkelahian disertai tindak kekerasan. Itu semua merupakan sikap dan perilaku yang merenggangkan relasi dan bahkan merusak hubungan kita dengan Allah, merusak hubungan dan relasi antar kita manusia, dan dengan seluruh lingkungan hidup manusia. Karya penebusan dan penyelamatan Tuhan kita Yesus Kristus justru1 ingin memperbaiki atau memulihkan kembali kerusakan relasi-relasi tersebut,menuju relasi sesuai maksud Allah menciptakannya. Yaitu menjadi relasi kasih yang kokoh, harmonis, dengan semangat egaliter dan sikap persaudaraan sejati yang melahirkan damai dan sangat membahagiakan.Kuasa Tuhan Yesus dan Roh Kudus ini dalam hidup kita di tengah komunitas biara, dalam keluarga dan di tengah masyarakat luas,membimbing ke semua perbuatan baik, benar, adil, jujur, dengan sikap siap sedia berkorban diri serta meninggalkan kepentingan dirinya demi sesama yang membutuhkan pengorbanan; melayani, membantu kebutuhan orang lain, mengasihi, mengampuni kesalahan mereka, menyemai kerukunan dan persaudaraan sejati. Ini yang melahirkan kebahagiaan.Maka mari kita perjuangkan terus agar kita akhirnya dengan rahmat Allah dapat hidup setia terhadap tuntutan hidup Kristiani, yang melahirkan kebahagiaan hidup kita di dunia dan bahagia abadi di surga. Mari kita tetap berjuang untuk menjadi umat Katolik yang bahagia, karena juga dapat menjadi kerasulan kita!

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *