On The Solemnity of The Nativity of The Lord

Berikut ini adalah terjemahan bebas dari homili Bapa Suci Paus Leo XIV pada saat misa malam Natal 25 Desember 2025 di Basilika Santo Petrus, Vatikan.

Saudara-saudari terkasih,

Selama ribuan tahun, di berbagai penjuru bumi, umat manusia menengadah ke langit, memberi nama pada bintang-bintang yang sunyi, dan melihat gambaran di dalamnya. Dalam kerinduan imajinatif mereka, mereka berusaha membaca masa depan di angkasa, mencari kebenaran di tempat tinggi yang tak ditemukan di bawah, di tengah-tengah rumah mereka. Namun, bagai meraba dalam gelap, mereka tetap tersesat, dibingungkan oleh ramalan mereka sendiri.  Pada malam ini, “umat yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang benderang; mereka yang diam di negeri kekelaman, di atasnya, terang telah bersinar” (Yes 9:1).

Lihatlah bintang yang menakjubkan dunia itu, percikan api yang baru dinyalakan dan berkobar dengan kehidupan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11). Ke dalam ruang dan waktu, di tengah-tengah kita datanglah Dia yang tanpanya kita tidak akan pernah ada. Dia yang menyerahkan nyawa-Nya bagi kita hidup di antara kita, menerangi malam dengan cahaya keselamatan-Nya. Tiada kegelapan yang tak diterangi bintang ini, sebab dalam cahayanya seluruh umat manusia menyaksikan fajar kehidupan baru yang kekal.

Inilah kelahiran Yesus, Emmanuel. Dalam Sang Putra yang menjadi manusia, Allah memberikan diri-Nya sendiri kepada kita, untuk “menebus kita dari segala kejahatan dan menyucikan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri” (Titus 2:14). Terlahir di tengah malam adalah Dia yang menebus kita dari kegelapan malam. Fajar hari yang dinantikan tidak lagi perlu dicari di ujung-ujung alam semesta yang jauh, melainkan dengan membungkuk rendah, di kandang yang dekat (dengan manusia).

Tanda yang jelas diberikan kepada dunia yang gelap adalah “seorang Anak yang dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Lukas 2:12). Untuk menemukan Sang Juruselamat, seseorang tidak harus menengadah ke atas, melainkan melihat ke bawah: kemahakuasaan Allah bersinar dalam ketidakberdayaan seorang Bayi yang baru lahir; kefasihan Firman yang kekal bergema dalam tangisan pertama seorang bayi; kekudusan Roh berkilauan dalam tubuh mungil itu, yang baru dimandikan dan dibungkus dengan kain lampin. Kebutuhan akan perawatan dan kehangatan menjadi ilahi karena Sang Putra Bapa berbagi sejarah dengan semua saudara dan saudarinya. Cahaya ilahi yang memancar dari Anak ini membantu kita mengenali kemanusiaan dalam setiap kehidupan baru.

Untuk menyembuhkan kebutaan kita, Tuhan memilih untuk menyatakan diri-Nya dalam setiap manusia, yang mencerminkan citra-Nya yang sejati, menurut rencana kasih yang dimulai sejak penciptaan dunia. Selama kegelapan kesesatan mengaburkan kebenaran ilahi ini, maka “tidak ada ruang bagi orang lain, bagi anak-anak, bagi orang miskin, bagi orang asing” (Benediktus XVI, Homili, Malam Natal, 24 Desember 2012). Kata-kata Paus Benediktus XVI ini tetap menjadi pengingat yang relevan bahwa di bumi, tidak ada ruang bagi Allah jika tidak ada ruang bagi pribadi manusia. Menolak salah satunya berarti menolak yang lain. Namun, di mana ada ruang bagi pribadi manusia, di situlah ada ruang bagi Allah; bahkan sebuah kandang dapat menjadi lebih suci daripada bait Allah, dan rahim Perawan Maria menjadi Tabut Perjanjian Baru.

Saudara-saudari terkasih, Marilah kita takjub akan hikmat Natal. Dalam Kanak-kanak Yesus, Allah memberikan dunia sebuah kehidupan baru, yaitu kehidupan-Nya sendiri, yang dipersembahkan bagi kita semua. Ia tidak memberi kita solusi cerdas untuk setiap masalah, melainkan sebuah kisah kasih yang menarik untuk kita masuk di dalamnya. Dalam menanggapi harapan umat manusia, Ia mengutus seorang Anak untuk menjadi sabda pengharapan. Dalam menghadapi penderitaan orang miskin, Ia mengutus yang tak berdaya untuk menjadi kekuatan untuk bangkit kembali. Di hadapan kekerasan dan penindasan, Ia menyalakan cahaya lembut yang menerangi dengan keselamatan semua anak dunia ini. Sebagaimana diamati Santo Agustinus, “kesombongan manusia menindihmu begitu berat sehingga hanya kerendahan hati ilahi yang dapat mengangkatmu kembali” (Santo Agustinus, Khotbah 188, III, 3). Sementara ekonomi yang menyimpang mendorong kita memperlakukan manusia seperti sekadar dagangan, Allah menjadi seperti kita, mengungkapkan martabat tak terbatas setiap pribadi. Sementara umat manusia berusaha menjadi “allah” untuk menguasai sesama, Allah memilih menjadi manusia untuk membebaskan kita dari segala bentuk perbudakan. Akankah kasih ini cukup untuk mengubah sejarah kita?

Jawabannya akan datang segera setelah kita terjaga dari malam yang kelam untuk menuju cahaya kehidupan baru dan seperti para gembala memandang Kanak-kanak Yesus. Di atas kandang Betlehem, tempat Maria dan Yusuf menjaga Sang Bayi baru lahir dengan hati penuh kekaguman, langit berbintang berubah menjadi “sejumlah besar bala tentara sorga” (Lukas 2:13). Mereka adalah bala tentara yang tanpa senjata dan melucuti senjata, karena mereka menyanyikan kemuliaan Allah, yang diwujudkan sejati dalam damai di bumi (bdk. ay. 14). Sungguh, di dalam hati Kristus berdetak ikatan kasih yang mempersatukan langit dan bumi, Pencipta dan ciptaannya.

Karena alasan inilah, tepat satu tahun yang lalu, Paus Fransiskus menegaskan bahwa Kelahiran Yesus menghidupkan kembali dalam diri kita “karunia dan tugas untuk membawa harapan ke mana pun harapan itu telah hilang,” karena “dengan Dia, sukacita berkembang; dengan Dia, kehidupan berubah; dengan Dia, harapan tidak mengecewakan” (Homili, Misa Malam Natal, 24 Desember 2024). Dengan kata-kata ini, Tahun Suci dimulai. Kini, ketika Tahun Yubileum mendekati akhir, Natal menjadi bagi kita waktu syukur dan misi; syukur atas karunia yang diterima, dan misi untuk bersaksi tentangnya di hadapan dunia. Sebagaimana Pemazmur bernyanyi: “Beritakanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa” (Mzm 96:2-3).

Saudara-saudari terkasih, renungan atas Firman yang menjadi manusia membangkitkan dalam seluruh Gereja suatu pewartaan baru yang sejati. Marilah kita wartakan sukacita Natal, yang merupakan perayaan iman, kasih, dan harapan. Ini adalah perayaan iman, karena Allah menjadi manusia, dilahirkan oleh Sang Perawan. Ini adalah perayaan kasih, karena karunia Sang Putra penebus terwujud dalam pemberian diri yang bersaudara. Ini adalah perayaan harapan, karena Kanak-kanak Yesus menyalakannya dalam diri kita, menjadikan kita pembawa damai. Dengan ketiga kebajikan ini dalam hati kita, tanpa takut akan kegelapan malam, kita dapat melangkah menyongsong fajar hari yang baru.

Diterjemahkan oleh

Blasius Panditya

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *