Renungan Harian 29 Agustus 2025

Hari ini kita memperingati hari wafatnya St. Yohanes Pembaptis. Dia dibenci oleh Raja Herodes karena menegur Herodes yang merebut istri orang lain. Peristiwa teguran itu juga menyulut kemarahan dan dendam Herodias (perempuan yang sudah menjadi istri orang lain dan direbut Herodes). Kebencian dan dendam itu terbalaskan dengan membunuh Yohanes.

Dalam Yer 1: 17-19 diserukan firman Tuhan kepada Yeremia: “Baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada Orang Israel segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka! Mengenai Aku, sesungguhnya pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.”

Markus dalam injilnya (Mrk 6: 17-29) mewartakan: “Ketika itu, Herodes yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Memang Yohanes pernah menegor Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes dan ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya.

Meski demikian, apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk para pembesarnya, para perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan para tamunya.

Raja berkata kepada gadis itu: “Mintalah dariku apa saja yang kauingini, hal itu akan kuberikan kepadamu!”, lalu ia bersumpah: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya: “Kepala Yohanes Pembaptis!” Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!”

Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena para tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika para murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya di kuburan.

Hikmah yang dapat kita petik:

Satu, janji Tuhan untuk menyertai Yeremia sebagai utusan-Nya, Dia penuhi dengan setia. Tak ada seorang pun yang dapat membelokkan/menyelewengkan ajarannya dan menggagalkan rencana Allah yang dia lakukan.

Hendaknya kita yakin bahwa Allah tetap dengan setia menyertai dan melindungi para utusan-Nya. Maka, orang yang setia menyertai hidup sesamanya lebih-lebih yang sedang menderita, sebetulnya dia menghadirkan Allah sendiri.

Dua, kebencian dan dendam suami istri (Herodes dan Herodias) telah memuncak dan mengakibatkan terjadinya pembunuhan meski waktu itu ada pesta ulang tahun (hari bahagia) Herodes. Karena terbakar kebencian dan dendam itu, kebahagiaan berubah menjadi kesedihan dan kematian. Semoga kita sadar dan ingat akan hal itu. Amin.

Mgr Nico Adi MSC

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *