Puasa Prapaskah Katolik

Sejak tanggal 22 Februari 2023 hingga 8 April 2023, umat Kristen Katolik menjalani masa puasa selama Masa Prapaskah. Tradisi berpuasa selama masa Prapaskah terinspirasi oleh puasa Yesus sendiri di padang gurun selama 40 hari 40 malam. Bedanya, Yesus tidak makan dan minum selama 40 hari 40 malam, umat Katolik masih boleh makan dan minum, namun dalam semangat pantang dan puasa.

Peraturan puasa ditentukan sebagai berikut. Pertama, hari puasa tahun 2023 jatuh pada hari Rabu Abu, tanggal 22 Februari 2023; dan hari Jumat Agung tanggal 7 April 2023. Kedua, hari pantang jatuh pada hari Rabu Abu dan hari Jumat selama masa Prapaska (22 Februari – 7 April 2023). Ketiga, yang dimaksud dengan berpuasa adalah makan hanya satu kali (1x) saja dalam sehari, yakni pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan. Keempat, umat beriman yang wajib berpuasa adalah yang berumur antara delapan belas (18) tahun sampai dengan awal tahun keenampuluh (60). Kelima, yang dimaksud dengan berpantang adalah tidak makan daging atau makanan lain yang disukai pada hari Rabu Abu dan hari Jumat selama masa Prapaska. Namun sesuai dengan tradisi Gereja universal, berpantang ini dapat dilakukan juga setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu merupakan hari pesta wajib. Umat beriman yang wajib berpantang adalah yang sudah genap berumur empat belas (14) tahun.

Peraturan puasa dan pantang tersebut selalu dibacakan pada hari Minggu sebelum Hari Rabu Abu seiring dengan pembacaan Surat Gembala Prapaskah yang disampaikan oleh Uskup setempat.  Dalam Surat Gembala Prapaskah dari Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Keuskupan Agung Semarang misalnya, dapat kita baca pula himbauan puasa dan pantang yang lebih detil sebagai berikut.

Agar umat beriman Katolik, baik secara pribadi maupun bersama (keluarga/komunitas), dapat memanfaatkan 40 hari masa Prapaskah ini secara lebih berdaya untuk penyempurnaan diri dengan tobat dan matiraga, dianjurkan beberapa hal berikut dapat dilakukan. Pertama, masing-masing pribadi, keluarga, dan komunitas dapat mencari bentuk matiraga (puasa dan pantang) yang sesuai dengan jenjang usia dan kondisi kesehatan. Kedua, pada hari pantang dan/atau hari-hari lain yang ditentukan, setiap keluarga/komunitas dapat berpantang makan nasi atau menggantinya dengan bahan makanan pokok lokal dengan satu macam lauk (sebagaimana telah menjadi gerakan di beberapa paroki atau komunitas selama masa Prapaska dan peringatan Hari Pangan Sedunia). Ketiga, selama empat puluh (40) hari dalam masa Prapaskah, secara pribadi atau secara bersama dalam keluarga/komunitas memilih wujud pertobatan dan silih yang lebih berdaya ubah. Keempat, setiap pribadi, keluarga, atau komunitas dapat mewujudkan karya amal kasih bagi mereka yang membutuhkan. Kelima, setiap pribadi, keluarga, atau komunitas dapat melatih diri lebih tekun dalam olah rohani, antara lain melalui ketekunan membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti renungan APP, rekoleksi/retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, pengakuan dosa, meditasi, dan adorasi.

Anjuran-anjuran tersebut sangat penting diikuti dalam rangka mengoptimalkan puasa dan pantang yang semakin selaras dengan teladan Yesus Kristus sendiri, meski tetap secara kuantitatif bobotnya lebih ringan dibandingkan dengan puasa yang dijalankan Yesus. Namun, secara kualitatif, puasa dan pantang tersebut diharapkan semakin membentuk setiap orang Katolik semakin serupa dengan Yesus Kristus sendiri.

Ada pula yang mencoba menjalani puasa sebagaimana dijalani oleh umat Islam, dengan berpuasa sepanjang hari, namun tanpa diawali dengan sahur. Prinsipnya, selama masa Prapaskah, yang bersangkutan hanya makan sehari sekali saja. Bahkan, tak sedikit pada hari Minggu pun tetap berpuasa, padahal seharusnya tidak.

Apa pun yang dilakukan, yang terpenting adalah semangat puasa untuk semakin mengalami kasih Kristus dan mewujudkan kasih tersebut dalam setiap karya pelayanan kita sehari-hari. Itulah sebabnya, puasa Katolik disertai dengan semangat berbagi dalam kemurahan hati melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP).

Dalam semua itu, pada tahun 2023, umat Katolik diundang untuk menghayati semangat “Tinggal Dalam Kristus: Hadirkan Damai bagi Sesama dan Alam Ciptaan” yang merupakan tema yang membingkai perjalanan spiritual puasa dan pantang kita. Selamat menjalani masa Prapaskah dengan sukacita!

Salam Peradaban Kasih Ekologis.

Salam INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan!

Aloys Budi Purnomo Pr

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *